Ayatullah Sayid Ali Khamanei:

Palestina adalah Isu Pertama Umat Islam

Palestina adalah Isu Pertama Umat Islam

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menilai isu Palestina sebagai masalah utama dunia Islam.

Menurut Kantor Berita ABNA, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menilai isu Palestina sebagai masalah utama dunia Islam. Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengungkapkan hal itu dalam pertemuan dengan peserta Konferensi Uni Parlemen Negara-Negara Anggota Organisasi Kerja Sama Islam ke-13 (PUIC) di Tehran, ibukota Republik Islam Iran, Selasa, 16 Januari 2018.

Ayatullah Khamenei menuturkan, keputusan Amerika Serikat untuk memindahkan Kedutaan Besarnya dari Tel Aviv ke al-Quds (Jerusalem) adalah sebuah kesalahan besar dan mereka tidak akan mampu untuk merealisasikannya serta upaya mereka itu tidak akan membuahkan hasil.

Rahbar menilai pembelaan terhadap Palestina sebagai tugas semua dan tidak boleh berpikir bahwa melawan rezim Zionis adalah pekerjaan sia-sia, namun dengan izin dan pertolongan Allah Swt, perjuangan melawan rezim Zionis akan membuahkan hasil seperti halnya gerakan Muqawama (perlawanan) yang telah lebih maju dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.Dalam pidatonya, Ayatullah Khamenei juga menyinggung adanya perencanaan masalah Myanmar dan Kashmir dalam Konferensi PUIC, namun pada saat yang sama mengabaikan isu-isu penting Yaman dan Bahrain.

Rahbar menuturkan, kita tidak boleh membiarkan imperium propaganda Barat yang berbahaya –dimana pada umumnya dikelola oleh Zionis– membuat isu-isu penting Dunia Islam menjadi terabaikan, dan dengan konspirasi yang senyap, mereka menghapus persoalan-persoalan utama umat Islam.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran juga menyinggung tiga peristiwa bersejarah tentang Palestina, yaitu "pendudukan bumi Palestina," "pengusiran massal jutaan warga Palestina" dan "pembantaian massal dan kejahatan besar kemanusiaan" terhadap mereka, dimana kejahatan dan penindasan ini tidak ada padanannya dalam sejarah.

Masalah Palestina adalah sebuah proyek langkah demi langkah yang dimulai sejak penandatanganan Perjanjian Kompromi Camp David dan proses kompromi antara Mesir dan rezim Zionis Israel. Proyek tersebut berlanjut dalam Konferensi Oslo di Norwegia oleh gerakan kompromi sejumlah pendukung gerakan ini di Palestina.

Selama bertahun-tahun, AS dan rezim Zionis berusaha agar isu Palestina terlupakan dan mereka menyibukkan negara-negara Muslim dengan persoalan internal dan konflik di antara negara-negara ini. Washington dan Tel Aviv juga terus berupaya untuk melemahkan gerakan Muqawama (perlawanan).

Sa'adullah Zarei, pakar kawasan Timur Tengah dalam sebuah analisa terbaru, menyinggung keputusan Donald Trump, Presiden AS yang mengakui al-Quds sebagai ibukota rezim Zionis Israel. Ia mengatakan, apa yang kita saksikan hari ini di tingkat internasional dan regional adalah langkah terburu-buru AS dan antek-anteknya untuk mengakhiri kasus Palestina sesuai dengan tuntutan rezim Zionis. Hal ini dilakukan ketika kemenangan berturut-turut Front Muqawama berhasil membebaskan berbagai bagian penting Dunia Islam dari dominasi AS dan rezim Zionis serta antek-antek regional mereka.

Intifada rakyat Palestina telah melunturkan petisi rencana kompromi yang dimulai tahun 1978 di Camp David. Berlanjutnya perlawanan telah menjaga isu Palestina tetap menjadi masalah pertama dan utama bagi Dunia Islam dan tidak membiarkan cita-cita rakyat Palestina terpinggirkan oleh rencana kompromi dengan Israel.

Ali Asghar Zargar, pakar isu internasional dalam sebuah pernyataan juga menyinggung rencana gabungan AS dan Israel terkait dengan Palestina. Ia mengatakan, dalam sejumlah dokumen yang dipublikasikan, dijelaskan mengenai isu "pembagian ancaman" di berbagai perbatasan Iran oleh Israel, dimana semua skenario ini telah dibentuk sejak bertahun-tahun lalu dengan poros Tel Aviv dan dukungan finansial Arab Saudi.

Namun semua konspirasi tersebut di Suriah dan Irak telah gagal. Seperti yang telah dijelaskan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran bahwa suatu ketika, rezim Zionis meneriakkan slogan "dari Sungai Nil sampai Eufrat (Furat)", namun hari ini mereka terpaksa membangun tembok di sekelilingnya untuk melindungi diri di wilayah yang mereka duduki.

Tak diragukan lagi, Palestina adalah serangkaian sejarah "dari laut hinggasungai" dan al-Quds adalah ibukotanya serta mereka mustahil untuk memutarbalikkan fakta tersebut. 


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Arba'een
Mourining of Imam Hossein
haj 2018
We are All Zakzaky