Ayatullah Ja'far Subhani:

Muslimah juga Memiliki Kewajiban yang Sama dalam Mendakwahkan Islam

  • News Code : 851304
  • Source : ABNA
Brief

Muslimah juga Memiliki Kewajiban yang Sama dalam Mendakwahkan Islam

Menurut Kantor Berita ABNA, ulama marja taklid Ayatullah al-Uzhma Ja'far Subhani dalam pertemuan dengan pimpinan Madrasah Jamiatuz Zahra pada ahad (27/8) menyingggung sejarah berdirinya universitas khusus perempuan tersebut dengan mengatakan, "Almarhum Sayid Husain Makki di awal berdirinya madrasah Jamiatuz Zahra memberi nama Madrasah Fatimah sa yang saat itu didirikan di Abadan. Saya setiap bulan Muharram dan Shafar setiap tahunnya diberi jadwal ceramah dan pelajaran di madrasah yang telah membina sejumlah santri muslimah tersebut. Dari tahun ke tahun jumlah muslimah yang berminat belajar di madrasah khusus perempuan ini meningkat, sampai batas maksimal madrasah tidak mampu lagi menampung, baik karena fasilitas bangunan yang belum memadai dan tenaga pengajar yang kurang. Sayapun mengusulkan agar madrasah ini dipindahkan ke Qom karena di Abadan tidak memungkinkan lagi."

"Almarhum Sayid Husain Makki mengutus lima santri perempuan diantaranya bernama Ghulghiri dan Shafati untuk menuju Qom melanjutkan pendidikan yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Jamiatuz Zahra pada tahun 1971. Saat itu salah satu kamar dari rumah Agha Barqa'i dijadikan kelas untuk mendidik kelima santri perempuan tersebut. Saya pun termasuk salah satu pengajarnya dan dikamar itu dibentangkan kain antara santri dengan ustad, sehingga tidak bisa melihat satu sama lain, untuk menjaga agar proses pengajaran berjalan sesuai dengan jalur ketakwaan. Dan itu kelas pertama yang melakukan hal tersebut. Ayatullah Misykini dan Ayatullah Haqqi juga menjadi pengajar di kelas yang hanya memiliki murid lima orang tersebut." Tambahnya. 

Ayatullah Ja'far Subhani kemudian melanjutkan dengan menyinggung pentingnya pendidikan dan pengajaran agama bagi perempuan. "Berdirinya Jamiatuz Zahra yang bertujuan mencetak muballighah-muballighah keberadaannya sangat penting dan merupakan salah satu kewajiban agama. Sebab dalam Alquran disebutkan berdakwah tersebut adalah kewajiban pribadi setiap orang sehingga dibutuhkan lahirnya pendakwah-pendakwah termasuk dari kalangan perempuan sendiri untuk memberikan pembinaan pada masyarakat muslim." 

"Bisa dibayangkan efek dan manfaat luar biasa yang bisa dicapai, jika pendakwah-pendakwah muslimah kita menguasai sejarah Anbiyah, Alquran dan tafsirnya, kalam dan hadis, sehingga bukan hanya mampu menguasai mimbar-mimbar ceramah namun juga bisa menyampaikan ilmunya lewat tulisan dan karya-karya ilmiah serta terlibat dalam proyek-proyek penelitian ilmiah." ungkap ulama marja yang telah menghasilkan ratusan kitab tersebut. 

"Seseorang yang sangat berjasa membuat dakwah Islam di Abadan berjalan lancar adalah seorang aktivis muslimah yang bernama Katuziyan. Pada tahun 60-an Kartuziyan aktif berceramah di banyak tempat di Abadan, sementara Abadan saat itu bisa dihitung dengan jari muslimah yang mau mengenakan jilbab. Namun karena kegigihan dan keuletannya dalam menyampaikan pesan-pesan Islam, Katuziyan mampu mengubah Abadan menjadi kota yang Islami dan mencintai ilmu-ilmu agama." Tambahnya lagi. 

"Keberhasilan dakwah Katuziyan di Abadan menjadi contoh dan bukti, bahwa keterlibatan perempuan dalam dunia dakwah mampu memberikan efek yang luar biasa. Dengan syarat, memang benar-benar memiliki penguasaan yang tinggi dalam ilmu-ilmu agama dan menguasai metode dakwah dengan baik." Tutup Ayatullah Ja'far Subhani. 


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mourining of Imam Hossein
Pesan Haji 2017 Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei
پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram