Iran:

Mahasiswa Indonesia di Iran bersama Mahasiswa UIN Jakarta Bahas Cara Melawan Radikalisme

  • News Code : 829921
  • Source : ABNA
Brief

Seminar Internasional "Melawan Radikalisme: Pengalaman Indonesia dan Iran" terselenggara atas kerjasama Universitas al-Mustafa Qom, Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Menurut Kantor Berita ABNA, Pakar Terorisme dan Radikalisme dari Iran DR. Abbas Ali Baraati dalam penyampaiannya saat menjadi pembicara dalam Seminar Internasional dengan tema "Countering Radicalism: Indonesia and Iran's Experiences" (Melawan Radikalisme: Pengalaman Indonesia dan Iran) di gedung al-Hikmah Institute Universitas Internasional al-Mustafa Qom Iran ahad (14/5) mengatakan, "Agama suci Islam adalah agama yang menjunjung tinggi keadilan. Dalam banyak ayat Al-Qur'an dan sunnah Nabawi Allah Swt  dan Rasul-Nya menegaskan perintah untuk berbuat adil. Baik menyangkut urusan pribadi, maupun masalah sosial, begitupun menyangkut dengan hubungan Islam dengan agama lain, Islam sangat menekankan pentingnya nilai-nilai keadilan. 

"Islam adalah sebuah sistem yang menyoroti semua hal dan memiliki aturan dalam setiap bidang kehidupan. Mulai dari urusan pribadi, hubungan antara suami-istri, hubungan antar negara, memiliki aturan bagaimana berperang, bagaimana berdamai, bagaimana berdiplomasi dan seterusnya yang Nabi Muhammad Saw menjadi suri tauladan dalam kesemua dimensi tersebut." Tambahnya. 

Lebih lanjut, DR. Baraati mengatakan, "Yang menjadi prioritas dalam Islam, adalah terwujudnya perdamaian. Jika semua cara telah ditempuh untuk mewujudkan perdamaian tidak tercapai, maka Islam membolehkan untuk berperang. Namun memutuskan perang bukanlah masalah sederhana, yang semua orang bisa memutuskan. Ada kaidah dan aturan-aturan mengenai perang yang sangat ketat, dan tidak boleh dilanggar. Mengenai aturan perang dalam Islam, terdapat sejumlah kitab khusus yang ditulis untuk itu oleh ulama-ulama yang menunjukkan tidak sederhanaya persoalan ini. Kitab-kitab yang menjelaskan mengenai hukum perang tersebut bukan hanya satu-dua jilid, melainkan lebih dari itu." 

"Salah satu contoh kitab yang secara khusus membahas aturan perang dan perdamaian dalam Islam adalah kitab Syiar al-Kabir yang ditulis Syaikh Syaibani murid dari Imam Abu Hanifah. Dalam kitab tersebut secara detail dideskripsikan sirah Rasulullah Saw dalam perang-perang yang dilaluinya sepanjang usianya, termasuk perang-perang yang dipimpin oleh khalifah-khalifah sepeninggal Nabi. Umat Islam semestinya mengikuti aturan-aturan dalam perang tersebut, tidak serta merta melancarkan peperangan, sebab prinsip asli dalam Islam adalah perdamaian." Paparnya.

DR. Baraati selanjutnya menambahkan. "Mengetahui hukum perang ini, tidak cukup hanya dengan mempelajarinya satu-dua tahun, melainkan butuh hingga berpuluh-puluh tahun untuk kemudian memahami semua dimensinya secara utuh. Sayang sekali hari ini, kita berada dalam kondisi dimana seseorang hanya belajar ilmu-ilmu Islam satu-dua tahun, namun telah berani mengeluarkan fatwa. Imam Khomeini, memulai aktivitas keilmuannya secara formal dari usia 12 tahun sampai 78 tahun. Bayangkan, Imam Khomeini belajar sampai lebih dari 50 tahun. Itulah mengapa fatwa-fatwa dan produk-produk hukum yang dikeluarkan Imam Khomeini sangat matang dan menunjukkan betapa tinggi kualitas keilmuan beliau utamanya dalam mengatasi masalah-masalah sosial dan perpolitikan antar negara."

Dibagian akhir penyampaiannya, DR. Baraati mengatakan, "Keilmuan Imam Khomeini yang matang itulah, yang membuat Imam Khomeini bukan hanya mampu membangun negara, tapi juga meninggalkan orang-orang yang mampu menjaga negara tersebut hingga hari ini. Sementara orang-orang dengan kapasitas keilmuan yang masih sangat kurang namun telah berani mengeluarkan fatwa-fatwa dalam masalah peperangan, malah hanya akan menyeret sebuah negara pada kehancuran."

"Hari ini banyak ulama yang belum cukup memiliki kapasitas untuk mengeluarkan fatwa, namun dengan berani telah mengeluarkan fatwa untuk mengobarkan peperangan. Yang fatwa-fatwa tersebut telah menyeret umat Islam dalam rangkaian peperangan yang tidak berkesudahan dan telah menimbulkan banyak korban. Hal tersebut tentu saja sangat merugikan umat Islam." Tutupnya.

Seminar Internasional yang dimoderatori oleh Muhlisin bin Turkan dan translator Sayid Ali Shahab tersebut dihadiri puluhan mahasiswa Indonesia yang berada di Qom dan sejumlah mahasiswa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta termasuk sejumlah peneliti dari Iran. Pembicara lainnya dalam seminar tersebut adalah DR. Muhammad Ali Savadi, salah seorang dosen dan peneliti di Univesitas al Mustafa dan pembicara dari Indonesia, Misthohizzaman, M.Hum, budayawan dan aktifis Gerakan Toleransi dan Kampanye Perdamaian Indonesia. Seminar Internasional tersebut terselenggara atas kerjasama Universitas al-Mustafa Qom, Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mourining of Imam Hossein
Pesan Haji 2017 Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei
پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram