Jubir Kemlu Iran:

Klaim HAM Amerika Hanya Kelanjutan Proyek Iranphobia

Klaim HAM Amerika Hanya Kelanjutan Proyek Iranphobia

Amerika dan pelanggar hak asasi manusia yang lain tidak berada dalam posisi yang berhak menghakimi negara lain secara tendensius dan sepihak.

Menurut Kantor Berita ABNA, Amerika dan pelanggar hak asasi manusia yang lain tidak berada dalam posisi yang berhak menghakimi negara lain secara tendensius dan sepihak.

Bahram Ghassemi, Jurubicara Kementerian Luar Negeri Iran hari Senin (30/7) mengecam statemen anti-Iran yang disampaikan menlu-menlu peserta konferensi kebebasan agama di Amerika Serikat.

"Sejarah Iran dipenuhi oleh bukti dan manifestasi kehidupan yang rukun di antara penganut agama berbeda. Sekarangpun semua pengikut agama Ilahi di Iran selain terpenuhi seluruh haknya, juga memiliki wakil di parlemen dan di instansi pemerintahan yang lain," ungkap Ghassemi.

Washington tanggal 24-26 Juli 2018 menjadi tuan rumah konferensi kebebasan agama pertama yang dihadiri menlu-menlu sejumlah negara. Para peserta konferensi yang mengira dirinya telah menjadi representasi komunitas internasional dalam deklarasinya menuduh Iran telah melanggar kebebasan beragama.

Padahal, menurut pasal 13, 15 dan 19 Undang Undang Dasar Republik Islam Iran, ketentuan yang diperlukan telah dibuat untuk menghormati hak-hak minoritas.

Dalam UUD Republik Islam Iran, minoritas agama telah didefinisikan dalam pasal 13 sebagai berikut, warga Iran pengikut Zoroaster, Yahudi dan Kristen merupakan minoritas agama yang diterima dan bebas untuk mempraktekkan agama mereka dalam kerangka hukum serta dapat mengamalkan urusan pribadi dan ajaran agamanya sesuai dengan ajaran agamanya.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei pada hari pertama tahun Iran 1397 dalam pertemuan dengan para peziarah kompleks makam suci Razavi di Mashad, menggarisbawahi ekspresi kebebasan sipil dan agama mereka berseiring dengan kemerdekaan, kepercayaan diri nasional, demokrasi, dan keadilan nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar revolusi.

Rahbar menyinggung pandangan dan sikap tidak obyektif serta propaganda asing seraya menjelaskan, hari ini di negara kita ada kebebasan berpikir, ada kebebasan berbicara dan kebebasan memilih. Tidak ada seorang pun di bawah tekanan, ancaman dan pengejaran karena pikiran dan pendapatnya bertentangan dengan pandangan pemerintah.

Robert Beglarian, anggota parlemen dari Kristen Armenia yang terletak di selatan Iran terkait kondisi minoritas agama di Iran mengatakan, perspektif budaya rakyat Iran terhadap minoritas kembali pada kedalaman sejarah dan budaya Islam-Iran, sehingga memungkinkan kalangan minoritas menikmati semua fasilitas budaya, pendidikan, sekolah, komunitas, institusi, olahraga, urusan pribadi dan lain-lain sama seperti anggota masyarakat lainnya. Mereka mendapat fasilitas yang cukup dan sesuai.

Ketika Amerika Serikat asik mengaku dirinya sebagai pembela hak-hak minoritas agama, ternyata mereka pernah melakukan pembantaian terhadap kelompok Kristen Davidian yang dipimpin David Koresh. Pada 19 April 1993, setelah 50 hari pengepungan daerah Waco, Texas, para petugas FBI membakar tempat berkumpulnya 76 pengikut David Koresh, sehingga semuanya tewas terbakar. Dari para korban tercatat 21 ank-anak dan 2 wanita hamil.

Mereka yang mengklaim pembela hak asasi manusia harus mengetahui bahwa dalam sejarah Iran tidak pernah mengenal genosida, pembantaian etnis atau agama. Kenyataan ini menunjukkan budaya tinggi dan historis bangsa Iran.


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Quds cartoon 2018
We are All Zakzaky