Kemenag:

Spirit Qur'ani Harus Jadi Rujukan Utama

Spirit Qur'ani Harus Jadi Rujukan Utama

Peran agama sebagai sumber daya moral dan spiritual, menurut Kepala Lajnah Pentashih Al-Qur'an Kementerian Agama, Mukhlis Hanafi, tidak hanya memantulkan gema dan pengaruh yang terbatas pada wilayah pribadi. Tetapi perannya juga harus memberi pengaruh pada wilayah publik.

Menurut Kantor Berita ABNA, Globalisasi terus berlangsung mengikis norma dan moral bangsa Indonesia. Demikian disampaikan Kepala Lajnah Pentashih Al-Qur'an Kementerian Agama, Mukhlis Hanafi. Ia juga menyatakan bahwa umat Islam memiliki kewajiban yang besar untuk mengawal moral bangsa.
"Nilai-nilai Islami dan spirit qur'ani haruslah menjadi rujukan utama, baik di lingkungan keluarga, lingkungan sosial, maupun dalam tataran bangsa dan negara," katanya mewakili Menag Lukman Hakim Saifuddin sebelum menutup secara resmi Kongres Kelima Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional Antarpondok Pesantren Kedelapan dan MTQ Internasional Kedua di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah 3, Cilamaya, Karawang, Jawa Barat, pada Ahad (15/7) malam.
Peran agama sebagai sumber daya moral dan spiritual, menurutnya, tidak hanya memantulkan gema dan pengaruh yang terbatas pada wilayah pribadi. Tetapi perannya juga harus memberi pengaruh pada wilayah publik.
"Saya harap (ulama) selalu mengamati permasalahan aktual yang terjadi di dalam kehidupan yang terjadi di dalam kehidupan umat dan bangsa kita dewasa ini  serta turut memikirkan solusinya," ujarnya.
Di samping itu, komitmen umat Islam, katanya, dalam menguatkan pilar-pilar kebangsaaan dan keumatan perlu terus dijaga. Keteguhan jati diri yang menjunjung tinggi ketuhanan yang Mahaesa, menurutnya, perlu disegarkan dan digelorakan.
Oleh karenanya, ia mengimbau mengimbau dan mengajak para alim ulama untuk bergandengan tangan. "Mari, kita bersanding. Mari, kita bergandengan tangan, untuk meningkatkan kualitas pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama di tengah masyarakat," katanya.
Begitupun JQHNU yang membawa misi dan tujuan yang sama dalam kehidupan masyarakat. Perannya tidak dapat diukur oleh jumlah MTQ atau hafiz dan qari yang dihasilkan. "Tapi harus dilihat dalam pandangan jangkauan yang lebih luas, yaitu seberapa berhasilkah kita mewarnai kehidupan sosial dengan nilai-nilai dan etika sosial yang bersumber dari Al-Qur'an yang mengajarkan moderasi beragama," katanya. 

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Arba'een
Mourining of Imam Hossein
haj 2018
We are All Zakzaky