Muhammad Hanif Dhakiri:

Pesantren Harus Ambil Peran Dakwah di Era Digital

Pesantren Harus Ambil Peran Dakwah di Era Digital

Di era perkembangan digital seperti sekarang ini, pesantren tak boleh lengah. Pesantren juga harus bisa mengambil peran yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Salah satunya adalah dengan menjadikan era digital dengan ladang dakwah seperti yang sudah dilakukan banyak kalangan di luar pesantren.

Menurut Kantor Berita ABNA, di era perkembangan digital seperti sekarang ini, pesantren tak boleh lengah. Pesantren juga harus bisa mengambil peran yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Salah satunya adalah dengan menjadikan era digital dengan ladang dakwah seperti yang sudah dilakukan banyak kalangan di luar pesantren.

Demikian itu disampaikan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Muhammad Hanif Dhakiri saat memberikan materi pada FGD di Musyawarah Nasional (Munas) 2 Alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso di halaman Pesantren Mambaul Maarif Denanyar, Jombang, Sabtu (3/3) malam.

Pria kelahiran Semarang ini mengatakan, berdakwah di era digital pesantren harus memperhatikan tiga hal penting. Pertama, kata dia, menggunakan platform yang bervariasi serta menarik di berbagai macam sosial media untuk dunia dakwah.

"Apa saja (soal keagamaan ala pesantren) harus ada, di twitter harus ada, di facebook harus ada, IG, dan seterusnya, termasuk youtube juga harus ada. Itu semua harus ada sisi yang diajarkan pesantren," ujarnya.

Kalau hal itu dilakukan, seseorang yang biasa memanfaatkan media sosial dalam hal mencari referensi ajaran keagamaan, ada potensi besar yang dijadikan pedoman adalah ajaran agama yang dikemas ala pesantren.

"Maka, orang mau masuk ke mana-mana (di sosmed) akan ketemu dengan pesantren, ketemu NU ketemu ajaran Aswaja," jelasnya.

Untuk mewujudkan demikian itu, menurutnya, perlu ada latihan-latihan di pesantren, khususnya dalam hal pengembangan pengetahuan tentang IT kepada para santri. "Harus ada santri yang dikader untuk menekuni soal IT tanpa menghilangkan kewajiban mendalami pengetahuan agamanya," ucapnya.

Kedua, perihal yang harus dilakukan pesantren di era digital ini adalah memproduksi konten keagamaan yang juga bervariasi dan menarik sebanyak mungkin baik konten yang bentuknya tulisan, video maupun yang bentuknya hanya audio harus dibuat sedemikian rupa.

"Konten-konten itu harus diolah, mulai dari perkara yang paling kecil hingga yang besar. Misalnya soal syariah, fiqih dan seterusnya," ungkapnya.

Ketiga, mantan aktivis PMII ini mendorong agar pesantren selain menjadi tempat yang paling efektif dalam menimba ilmu agama, juga sekaligus menjadi wadah yang dapat bersinergi dengan pesantren lain dalam hal pengembangan IT. Hal ini dapat tercermin dengan ketersediaan fasilitas-fasilitas yang bersentuhan langsung dengan dunia IT atau digital.

Dengan itu pengetahuan keagamaan yang dimiliki para santri, ustadz, dan para kiai di pesantren dapat dengan mudah dikolaborasikan dengan perkembangan dunia digital melalui fasilitas yang dimiliki.

"Misalkan ustadz ini ngaji fiqih yang kemudian dibuat video yang simpel. Selanjutnya ustadz yang lain membuat audio kajian keagamaan yang lain dan seterusnya. Kemudian di pesantren-pesantren yang lain juga melakukan hal yang sama," ungkapnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)
Di era perkembangan digital seperti sekarang ini, pesantren tak boleh lengah. Pesantren juga harus bisa mengambil peran yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Salah satunya adalah dengan menjadikan era digital dengan ladang dakwah seperti yang sudah dilakukan banyak kalangan di luar pesantren.

Demikian itu disampaikan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Muhammad Hanif Dhakiri saat memberikan materi pada FGD di Musyawarah Nasional (Munas) 2 Alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso di halaman Pesantren Mambaul Maarif Denanyar, Jombang, Sabtu (3/3) malam.

Pria kelahiran Semarang ini mengatakan, berdakwah di era digital pesantren harus memperhatikan tiga hal penting. Pertama, kata dia, menggunakan platform yang bervariasi serta menarik di berbagai macam sosial media untuk dunia dakwah.

"Apa saja (soal keagamaan ala pesantren) harus ada, di twitter harus ada, di facebook harus ada, IG, dan seterusnya, termasuk youtube juga harus ada. Itu semua harus ada sisi yang diajarkan pesantren," ujarnya.

Kalau hal itu dilakukan, seseorang yang biasa memanfaatkan media sosial dalam hal mencari referensi ajaran keagamaan, ada potensi besar yang dijadikan pedoman adalah ajaran agama yang dikemas ala pesantren.

"Maka, orang mau masuk ke mana-mana (di sosmed) akan ketemu dengan pesantren, ketemu NU ketemu ajaran Aswaja," jelasnya.

Untuk mewujudkan demikian itu, menurutnya, perlu ada latihan-latihan di pesantren, khususnya dalam hal pengembangan pengetahuan tentang IT kepada para santri. "Harus ada santri yang dikader untuk menekuni soal IT tanpa menghilangkan kewajiban mendalami pengetahuan agamanya," ucapnya.

Kedua, perihal yang harus dilakukan pesantren di era digital ini adalah memproduksi konten keagamaan yang juga bervariasi dan menarik sebanyak mungkin baik konten yang bentuknya tulisan, video maupun yang bentuknya hanya audio harus dibuat sedemikian rupa.

"Konten-konten itu harus diolah, mulai dari perkara yang paling kecil hingga yang besar. Misalnya soal syariah, fiqih dan seterusnya," ungkapnya.

Ketiga, mantan aktivis PMII ini mendorong agar pesantren selain menjadi tempat yang paling efektif dalam menimba ilmu agama, juga sekaligus menjadi wadah yang dapat bersinergi dengan pesantren lain dalam hal pengembangan IT. Hal ini dapat tercermin dengan ketersediaan fasilitas-fasilitas yang bersentuhan langsung dengan dunia IT atau digital.

Dengan itu pengetahuan keagamaan yang dimiliki para santri, ustadz, dan para kiai di pesantren dapat dengan mudah dikolaborasikan dengan perkembangan dunia digital melalui fasilitas yang dimiliki.

"Misalkan ustadz ini ngaji fiqih yang kemudian dibuat video yang simpel. Selanjutnya ustadz yang lain membuat audio kajian keagamaan yang lain dan seterusnya. Kemudian di pesantren-pesantren yang lain juga melakukan hal yang sama," ungkapnya.

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mourining of Imam Hossein
haj 2018
We are All Zakzaky