Indonesia:

Krisis Rohingya, PBNU Temui Presiden

  • News Code : 852752
  • Source : Liputan Islam
Brief

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj bersama Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo, di Istana Negara Jakarta, pada Selasa (5/9). Pertemuan tersebut membahas tentang krisis kemanusiaan yang terjadi di Rohingya, Myanmar.

Menurut Kantor Berita ABNA, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj bersama Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo, di Istana Negara Jakarta, pada Selasa (5/9). Pertemuan  tersebut membahas tentang krisis kemanusiaan yang terjadi di Rohingya, Myanmar.

Kiai Said menegaskan, bahwa krisis kemanusiaan yang terjadi di Rohingya bukanlah konflik agama. Oleh karena itu, ia mengimbau kepada masyarakat muslim Indonesia untuk tidak terprovokasi dengan isu-isu agama. Kiai Said juga meminta agar masyarakat bersikap jernih terhadap konflik Rohingya.

“Namun, jangan sampai hal itu ditarik menjadi konflik antar agama, tidak betul itu. Umat Muslim di Indonesia jangan terprovokasi,” tegas Kiai Said.

Kiai Said juga menyampaikan kepada Presiden Jokowi tentang pentingnya membantu perdamaian di Rohingya. Menurutnya, Nahdlatul Ulama (NU) siap ikut andil dalam menginisiasi perdamaian, dengan peran serta lembaga-lembaga di bawah naungan NU.

Sementara, menanggapi adanya rencana sejumlah ormas yang akan menggelar aksi solidaritas atau demo di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kiai Said mengatakan hal itu salah kaprah. Ia mempertanyakan rencana aksi tersebut.

Kiai Said menjelaskan, bahwa Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Masjid Cheng Ho merupakan kekayaan khazanah peradaban Nusantara. Oleh karena itu, tidak perlu memandang Borobudur dari sudut pandang agama, apalagi mengaitkannya dengan krisis kemanusiaan Rohingya. Kiai Said juga mengingatkan semua pihak untuk tidak menganggu kebesaran budaya kita sebagai bangsa.

“Jadi, kalau kita memandang Borobudur, jangan memandang agama. Jangan memandang agamanya apa itu, bukan. Sama dengan masjid tua, Masjid Cheng Ho, kita hormati, kelenteng kita hormati. Semua merupakan khazanah arkeologi sebagai budaya, kekayaan budaya bangsa umat Nusantara ini, sebelum ada Indonesia namanya kan Nusantara ini. Jadi tidak boleh kebesaran budaya kita diganggu, Borobudur, Prambanan, Masjid Cheng Ho, kelenteng, apa itu yang sudah kuno,” terangnya.

“Nggak usah demo. Kita diam-diam saja juga sudah mulai bergerak sudah ya. Pemerintah Indonesia akan membangun RS senilai Rp 50 miliar di Rakhine State dan yang sudah dibangun apa lagi, sekolah. Nanti RS senilai Rp 50 miliar. Itu pun Presiden mengatakan tidak banyak dipublikasikan, orang nggak pamer, nggak usah pamer. Ya gitu,” tambah Kiai Said. (Ar/Detik/NU Online).


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Arba'een
Mourining of Imam Hossein
Pesan Haji 2017 Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei
پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky