Arab Saudi:

Sikap Resmi Saudi-Bahrain Pulihkan Hubungan dengan Israel

  • News Code : 856143
  • Source : Parstoday
Brief

Arab Saudi dan Bahrain sedang berusaha memulihkan hubungan dengan rezim Zionis Israel.

Arab Saudi dan Bahrain sedang berusaha memulihkan hubungan dengan rezim Zionis Israel.

Adel Al Jubeir, Menteri Luar Negeri Saudi di sidang Majelis Umum PBB mengatakan, perseteruan Arab dengan Israel adalah yang terlama sepanjang sejarah dan tidak ada alasan untuk melanjutkannya. Sehubungan dengan ini, harian Inggris, The Times mengungkap keinginan pemerintah Bahrain untuk menormalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel.

Sepertinya kondisi Timur Tengah saat ini dalam pandangan Israel adalah kombinasi dari berbagai peristiwa yang memuaskan dan tidak memuaskan baginya. Israel jelas tidak puas dengan apa yang terjadi di Suriah dan poros perlawanan, karena pemerintah Suriah bukan saja tidak tumbang, bahkan perang melawan terorisme membuatnya semakin berpengalaman dan memperkuat poros perlawanan di Timur Tengah.

Di sisi lain, Israel puas dengan apa yang terjadi di Teluk Persia, karena mendorong terbentuknya semacam solidaritas antara Israel dan beberapa negara Arab terutama Saudi, Bahrain dan Uni Emirat Arab.

Pertanyaannya adalah, apa yang berusaha dikejar oleh Saudi dan Bahrain dari pemulihan hubungan dengan Israel ?

Pertama, pemanfaatan pengaruh Israel di Amerika Serikat. Tujuan pertama Saudi dan Bahrain adalah berusaha menggunakan pengaruh Israel untuk menarik dukungan Amerika. Penguasa Riyadh dan Manama menganggap kekuatannya bergantung pada Barat terutama Amerika. Sementara lobi kuat Zionis di Barat termasuk Amerika, sedang diincar oleh rezim Al Saud dan Al Khalifa untuk menarik dukungan Washington.

Kedua, kerja sama untuk mengurangi dampak kekalahan di Suriah. Tujuan kedua Saudi dan Bahrain, sebagaimana juga Israel yang tidak puas dengan perkembangan yang terjadi di Suriah dan poros perlawanan, membalas kekalahannya di negara itu.

Saudi sejak enam tahun lalu, dibanding negara lain, adalah yang paling berusaha menggulingkan pemerintahan Suriah. Akan tetapi upaya itu tidak menghasilkan apapun. Masalah ini kemudian menyebabkan kedekatan Riyadh dan Manama dengan Israel, sehingga dampak-dampak kekalahan itu bisa dikurangi.  

Ketiga, kerja sama untuk membendung pengaruh Iran. Kesimpulan yang diperoleh Saudi adalah, konstelasi kekuatan di Timur Tengah saat ini berpihak pada Republik Islam Iran dan Tehran berhasil bukan saja mencegah tumbangnya Bashar Al Assad di Suriah, bahkan mampu memperkuat Hizbullah jauh dari sebelumnya. Kesimpulan ini semakin memperkuat hubungan dan solidaritas Israel dan Saudi yang bersekongkol membendung pengaruh Iran.

Keempat, memanfaatkan hubungan dengan Israel untuk meredam gejolak protes rakyat di dalam negeri. Tujuan keempat rezim Al Saud dan Al Khalifa, berusaha memanfaatkan kapasitas intelijen dan keamanan Israel untuk meredam gejolak rakyat di dalam negeri kedua negara itu. Dengan kata lain, Riyadh dan Manama menyimpan target internal dalam pemulihan hubungan dengan Israel.

Mengingat tingkat ketidakpuasan rakyat Saudi dan Bahrain cenderung mengalami peningkatan, di sisi lain Israel dianggap punya kapasitas penumpasan aksi protes rakyat yang tinggi, oleh karena itu Al Saud dan Al Khalifa memanfaatkan hubungan baik dengan Israel untuk kepentingan dalam negeri.

Saudi dan Bahrain yang saat ini tengah berusaha memulihkan hubungan dengan Israel, pada tahun 2000 dan 2008 merupakan penentang utama Qatar yang ingin menutup kantor dagang Israel di Doha. Sekarang Adel Al Jubeir secara resmi mendukung pemulihan hubungan Riyadh-Tel Aviv. Hal ini tidak pernah dilakukan pejabat Saudi sebelumnya. 


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mourining of Imam Hossein
Pesan Haji 2017 Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei
پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram