Yaman:

Hujan Rudal Balasan Yaman ke Saudi

Hujan Rudal Balasan Yaman ke Saudi

Sejak awal tahun 2018, sekitar 10 rudal sudah ditembakkan pasukan Yaman ke markas militer Saudi.

Menurut Kantor Berita ABNA, Unit rudal militer dan gerakan Ansarullah Yaman pada 27 Januari 2018 melesakkan dua rudal balasan ke markas milisi bayaran Arab Saudi di wilayah Al Muhashama, distrik Khab dan Al Shaaf, Provinsi Al Jawf, Yaman. Dengan begitu sejak awal tahun 2018, sekitar 10 rudal sudah ditembakkan pasukan Yaman ke markas militer Saudi.

Mimpi Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Saudi di Yaman bukan saja tidak pernah menjadi kenyataan, justru negaranya sendiri yang sekarang terjerembab dalam lubang yang digalinya sendiri. Yaman terbukti telah menunjukkan kegagalan dan kekalahan seluruh rencana dan strategi militer Al Saud. Prestasi ini dicapai dalam dua tahun pertama perlawanan rakyat Yaman atas agresi militer Saudi dan setahun setelah produksi rudal pasukan Yaman mengalami peningkatan.

Pemerintah Riyadh berharap konspirasi Ali Abdullah Saleh bulan Desember 2017 lalu dapat mengubah kondisi perang Yaman dan ambisi terbesar Al Saud adalah menghapus Ansarullah dari struktur kekuasaan negara itu. Akan tetapi konspirasi itu gagal seiring dengan tewasnya Abdullah Saleh sehingga terbukti bahwa Yaman bukan lagi "santapan" yang bisa ditelan dengan mudah oleh Saudi.

Pada situasi seperti ini, rezim Al Saud kembali mengarahkan tuduhan kepada Iran. Bahkan Nikki Haley, Duta Besar Amerika Serikat di PBB pada 15 Desember 2017 sampai harus mempertontonkan bangkai rudal yang ditembakkan Ansarullah ke Saudi di hadapan media demi mendukung klaim Riyadh.

Sepertinya, pesatnya keberhasilan rudal pasukan Yaman dan Ansarullah di bulan Januari 2018 telah memaksa Saudi kembali menuduh Iran memasok bantuan rudal untuk Ansarullah. Tuduhan-tuduhan terhadap Iran ini sebenarnya terbukti gagal, pasalnya hanya 48 jam setelah propaganda anti-Iran, Nikki Haley, Farhan Haq, Juru Bicara Sekjen PBB secara resmi mengumumkan, tidak ada bukti apapun yang menunjukkan bahwa rudal yang ditembakkan Ansarullah ke Saudi itu adalah buatan Iran.

Bahkan jauh sebelum Farhan Haq, Vasily Nebenzya, Wakil tetap Rusia di PBB telah membantah tuduhan bahwa Iran mempersenjatai Ansarullah dengan rudal balistik. Ia mengatakan, klaim tersebut tidak berdasar dan tidak benar. Sementara itu Ali Shamkhani, Sekretaris Dewan Tinggi Kemanan Nasional Iran menuturkan, Yaman diblokade oleh beberapa negara dari segala penjuru sehingga makanan dan kebutuhan pokok lainnya tidak mungkin bisa masuk ke negara itu.

Menurut Shamkhani, rudal bukan paket kecil makanan, tapi perangkat yang memiliki ukuran dan volume yang sangat berat dan tentu tidak bisa diangkut oleh perahu. Jika ada sebuah negara yang diblokade total dari laut, udara dan darat, kemudian dituduh menyelundupkan rudal, maka tuduhan itu benar-benar konyol.

Surat kabar Al Akhbar, Saudi pada 27 Januari 2018 memprotes statemen Adel Al Jubeir, Menteri Luar Negeri negara itu dalam pertemuan Davos dan menulis, kekalahan di medan perang tidak menyenangkan bagi Riyadh dan Abu Dhabi, dan untuk menutupinya dibuatlah karangan tentang intervensi Iran. Hal itu dituduhkan hampir dalam setiap peristiwa yang terjadi di Yaman. 

Al Jubeir mengatakan, masyarakat dunia harus mencegah penyelundupan rudal balistik Iran ke Yaman, dengan kata lain ke Ansarullah. Statemen itu tidak lain adalah cara lain untuk menutupi ketidakmampuan Riyadh mengalahkan Yaman.

Di sisi lain, menyaksikan kekalahan Riyadh di Yaman, sepertinya para pendukung Saudi di Barat berusaha menghidupkan kembali upaya dialog politik. Dipilihnya Martin Griffiths sebagai utusan khusus PBB di Yaman, dan lawatan Boris Johnson, Menlu Inggris ke Oman dan Saudi, dua hari pasca terpilihnya Griffiths dapat diduga dalam kerangka tujuan ini.

Tersiar kabar bahwa lawatan Boris Johnson ke Oman, bertujuan untuk meminta negara itu memediasi upaya memulai kembali dialog Yaman. Hamid Rizq, salah seorang pakar media Yaman mengatakan, serangan rudal Yaman ke target-target sensitif di Saudi dapat memaksa Riyadh meninjau ulang keputusannya untuk melanjutkan agresi militer ke Yaman.

"Kita bisa berharap perang akan berakhir, jika sikap masyarakat internasional terkait perang Yaman berubah," pungkasnya.


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Quds cartoon 2018
We are All Zakzaky