Di Balik Pemecatan Pejabat Tinggi Militer Arab Saudi

Di Balik Pemecatan Pejabat Tinggi Militer Arab Saudi

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz, Senin (26/2/2018), dalam kelanjutan perombakan jabatan di tingkat tinggi negara ini, memecat Abdul Rahman bin Saleh al-Bunyan, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata, dan juga Brigadir Jenderal Muhammad bin Iwadz Sahim, Panglima Angkatan Udara, serta Fahad bin Turki bin Abdulaziz, panglima Angkatan Darat Saudi.

Pemecatan para panglima senior militer Arab Saudi dapat dianalisa dari beberapa sudut. Arab Saudi, yang dalam beberapa bulan terakhir telah menyaksikan gelombang pembelotan politik dan militer serta keamanan dalam apa yang disebut para analis sebagai dari kudeta lunak Arab Saudi. Kekhawatiran tentang ketakutan Raja Saudi Salman bin Abdulaziz tentang kemungkinan reaksi terhadap tindakan keluarga ini dalam mendominasi kekuasaan, termasuk kemungkinan kudeta militer yang dapat dianalisa dalam konteks perebutan kekuasaan di rezim Arab Saudi. Salah satu caranya adalah dengan perubahan besar dalam jajaran Angkatan Bersenjata Saudi. Isu perebutan kekuasaan adalah ciri khas Arab Saudi, dan ini adalah fakta yang diakui dalam laporan televisi dan berita Barat.

 

Jaringan televisi BBC baru-baru ini menguak korupsi dan perebutan kekuasaan yang meluas di keluarga Al Saud dalam sebuah film dokumenter berjudul "Al Saud; Families in War."

 

Saad al-Faqih, seorang oposisi Saudi, pada film tersebut mengatakan bahwa anggota keluarga kerajaan memiliki kehidupan egotistikal dan narsis. Akibat perspektif tersebut mereka  pun ingin memonopoli kekuasaan.

 

Dalam kondisi tersebut, pangeran mahkota Salman bin Abdulaziz mengintensifkan perjuangannya untuk menguasai semua wewenang di negara itu. Dalam konteks keprihatinan ini, pemecatan dan pelantikan bukan hanya terbatas di kancah politik melainkan di bidang keamanan dan militer. Ini menunjukkan besarya kekhawatiran Raja Salman terhadap segala bentuk reaksi dalam keluarga Al Saud, karena sejatinya dia telah tradisi transfer kekuasaan serta berusaha menguasai kekuasaan.
Muhammad bin Salman

 

Isu penting lainnya yang turut berperan dalam pelengseran para pejabat militer Arab Saudi adalah peningkatan kegagalan militer negara ini di medan perang di kawasan. Dalam beberapa bulan terakhir, Arab Saudi telah menyaksikan kegagalan militernya dalam melawan Yaman bahkan mendapat pukulan telak dari  militer dan para pejuang Yaman. Secara total, gelombang pemecatan terbaru di Arab Saudi merupakan gempa susulan pasca kegagalan Saudi dalam perang Yaman.

 

Sameh Askar, seorang analis politik berpendapat, "Al Saud telah gagal secara politis, militer dan moral melawan rakyat tertindas Yaman. Setelah menghabiskan miliaran dolar dalam perang anti-Yaman, serta terbunuhnya ribuan tentara Saudi dan hancurnya sepertiga dari kendaraan lapis bajanya dan juga puluhan jet tempur dan helikopter dalam tiga tahun agresi, kini Riyadh berada di jurang kekalahan total.

 

Dalam perang ini, Arab Saudi memulai perang ke Yaman pada Maret 2015, dan beranggapan perang akan segera berakhir dengan kekalahan gerakan Ansarullah dan kembalinya mantan presiden Yaman yang juga dikenal sebagai pion Riyadh, Abd Rabbuh Mansur Hadi. Tapi perang tak kunjung berakhir, dan sekarang telah berlangsung selama sekitar tiga tahun. Perubahan terus-menerus para pejabat Saudi, terutama pejabat militer dan keamanan selama tiga tahun terakhir, juga menunjukkan kebingungan Al Saud menghadapi perlawanan rakyat Yaman.
.................
300


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Quds cartoon 2018
Pesan Haji 2017 Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei
پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky