Tujuh Fakta Syiah di Arab Saudi

  • News Code : 694538
  • Source : Syiah
Brief

Masjid Nabawi dan areal Baitullah terbuka untuk Syiah. Tidak ada larangan bagi mereka untuk memasukinya, yang menunjukkan fakta tidak terbantahkan bahwa mereka tetap dianggap muslim oleh otoritas Saudi. Merekapun secara terbuka bebas melakukan tata cara shalat ala Syiah tanpa larangan, termasuk menyelenggarakan doa Kumayl bersama di areal masjid Nabawi setiap malam Jum’at.

Pertama, ada Syiah Imamiyah [sebagaimana yang dianut mayoritas warga Iran] di Saudi. Tersebar di banyak kota, termasuk Madinah, namun mayoritas bermukim di kota Qatif, Ahsa dan Damam. Jumlahnya kisaran 10-15% dari total penduduk Arab Saudi. Sekitar 3-4 juta jiwa penduduk Saudi bermazhab Syiah. Sementara Syiah Zaidiyah bermukim diwilayah selatan Arab Saudi, yang berbatasan langsung dengan Yaman. Mereka mayoritas di kota Najran. Syiah Ismailiyah juga terdapat dibagian selatan Arab Saudi, namun jumlahnya sangat sedikit.

Kedua, sebagaimana warga muslim lainnya, Syiah juga memiliki masjid, sekolah agama dan Husainiyah untuk melakukan aktivitas keIslaman bercorak Syiah. Meskipun tetap mendapat tekanan dan batasan, namun secara umum Syiah Saudi bebas secara terbuka menyampaikan ajarannya dimimbar-mimbar termasuk dalam mempublikasikan karya-karyanya namun tetap terbatas hanya dikomunitas Syiah dan tidak bebas diperjual belikan di komunitas non Syiah Saudi. Tidak jarang, masjid Syiah disegel pihak keamanan, atau khatibnya dipenjarakan, karena dianggap memprovokasi warga untuk menentang kerajaan.

Namun aturan ini tidak hanya berlaku untuk Syiah, tidak sedikit ulama Wahabipun dipenjara oleh rezim dengan tuduhan mengganggu stabilitas negara. Diantaranya Syaikh Salman al Audah dan Syaik ‘Aidh al Qarni [penulis kitab La Tahzan] pernah merasakan dinginnya jeruji besi, padahal keduanya bukan Syiah. Sementara ulama terkenal Syiah yang masih mendekam dipenjara sampai saat ini adalah Syaikh Nimr Baqir al Nimr.

Ketiga, dihari-hari tertentu, yang dianggap istimewa oleh Syiah, mereka melakukan majelis-majelis keagamaan. Termasuk pada hari Asyura. Meski karnaval peringatan Asyura dilarang dilakukan diareal terbuka, namun mereka tetap bisa melakukan di ruangan tertutup, dan yang hadir sampai ribuan orang untuk mendengarkan ceramah-ceramah bertemakan Asyura dari ulama dan muballigh Syiah. Dan ketika peringatan Asyura berlangsung, tidak ada diluar ruangan tersebut yang melakukan aksi demonstrasi minta acara Asyura itu dibubarkan, sebagaimana di Indonesia.

Keempat, Masjid Nabawi dan areal Baitullah terbuka untuk Syiah. Tidak ada larangan bagi mereka untuk memasukinya, yang menunjukkan fakta tidak terbantahkan bahwa mereka tetap dianggap muslim oleh otoritas Saudi. Merekapun secara terbuka bebas melakukan tata cara shalat ala Syiah tanpa larangan, termasuk menyelenggarakan doa Kumayl bersama di areal masjid Nabawi setiap malam Jum’at. Syiahpun bebas keluar masuk disemua masjid diseantero Arab Saudi untuk shalat. Syiah bebas untuk bergabung dalam jamaah shalat, meskipun imam shalatnya Wahabi sekalipun, berbuka bersama saat Ramadhan dan mendengarkan ceramah-ceramah keagamaan. Tidak ada satupun masjid di Arab Saudi yang memasang spanduk Syiah bukan Islam atau menetapkan aturan Syiah dilarang masuk masjid, tidak sebagaimana yang dilakukan disebagian kota tertentu di Indonesia, yang memasang spanduk anti Syiah dan mengharamkan Syiah mendekati masjid.

Kelima, meski Syiah secara umum ditekan rezim Saudi agar tetap berada digaris ekonomi menengah kebawah, namun tidak sedikit Syiah Saudi yang kaya dan menjadi pengusaha. Termasuk salah satu tokohnya diangkat sebagai menteri di kerajaan Arab Saudi. Anak yatim, janda dan fakir miskin tetap dapat santunan dari Kerajaan, apapun mazhabnya, termasuk warga Syiah. 

Keenam, untuk mencegah tersebarnya dakwah Syiah, otoritas Saudi melakukan pelarangan ketat, agar Syiah hanya diberlakukan dikomunitas Syiah, dan dilarang tegas menyebarkannnya kepada komunitas Sunni. Mufti-mufti Wahabi Saudi maupun para muballighnya secara demonstratif sering mengungkap kesesatan-kesesatan Syiah dimimbar-mimbar namun tidak sampai mengkafirkan secara terang-terangan meskipun mereka meyakini demikian. Media-media Arab Saudi tidak pernah menyebut masjid Syiah sebagai kuil, atau menyebut ulama dan muballigh Syiah sebagai pendeta atau pastor ketika memberitakan kegiatan-kegiatan atau informasi mengenai Syiah, tidak sebagaimana yang sering tertulis secara provokatif dimedia-media anti Syiah di Indonesia.

Ketujuh, Syiah hidup normal di pemukiman-pemukiman mereka, tanpa gangguan, apalagi pengusiran. Tidak ada warga Saudi yang Syiah harus mengungsi di negerinya sendiri, karena kampung, masjid dan rumah-rumah mereka dibakar. Aksi bom bunuh diri di masjid Syiah, yang menewaskan puluhan orang jamaah shalat Jum’at, mendapat kecaman otoritas Arab Saudi dan akan mengusut tuntas pelakunya. Sekali lagi, media-media Saudi menyebut yang diledakkkan itu masjid, bukan kuil. Jadi, aksi demonstrasi menentang peringatan Asyura, pemasangan spanduk anti syiah dimasjid-masjid, penyebutan kuil pada masjid Syiah, penyebutan pendeta/rahib pada ulama dan muballigh Syiah, pengusiran satu kampung warga Syiah sehingga menjadi pengungsi, itu hanya ada di Indonesia.

Entah mereka belajar dan mencontoh darimana.

[Ismail Amin, sementara menetap di Qom Republik Islam Iran] 

                      Aksi demonstrasi menuntut pembebasan ulama Syiah Saudi yang ditangkap

Upacara pemakaman korban peledakan masjid Imam Ali As di Qatif

                    Suasana shalat berjama'ah Sunni-Syiah di salah satu masjid di Arab Saudi

 Jamaah Syiah pada peringatan Asyura disalah satu Husainiyah di Madinah

                        Pembacaan Doa Kumayl Muslim Syiah di pelataran Masjid Nabawi Madinah


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Arba'een
Mourining of Imam Hossein
Pesan Haji 2017 Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei
پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky