Kunci Sukses Revolusi Imam Khomeini Ra

  • News Code : 810531
  • Source : ABNA
Brief

Apakah faktor yang menyebabkan revolusi Imam Husein As itu mengalami kekalahan atau kegagalan secara lahiriyah pada saat itu? Dan faktor apakah yang menyebabkan revolusi Imam Khomeini Ra itu mampu menumbangkan kerajaan zalim selama berabad-abad dan berhasil membentuk pemerintahan Ilahiyah yang eksis?

Mengapa Imam Khomeini Ra melakukan revolusi? Sebenarnya pertanyaan : Mengapa Imam Khomeini Ra melakukan revolusi, sama dengan pertanyaan : Mengapa Imam Husein bin Ali As melakukan revolusi? Dan jawaban atas pertanyaan : Mengapa Imam Khomeini Ra melakukan revolusi juga sama dengan jawaban : Mengapa Imam Husein As melakukan Revolusi? 
Jawabnya adalah bahwa orang-orang yang berkuasa di pemerintahan pada saat itu telah betul-betul melakukan berbagai kezaliman, kejahatan, penindasan dan kekerasan terhadap rakyat. Iman dan moral masyarakat telah begitu merosot dan ajaran agama sudah banyak yang dipelintir sehingga hanya sebagai bahan olok-olokan belaka. Jika sekiranya beliau tidak melakukan revolusi sedemikain rupa, maka agama Islam yang sebenarnya akan sirna, moral masyarakat semakin hancur dan keadilan akan semakin dinjak-injak. Karena itulah beliau melakukan revolusi.
Imam Husein As berkata: “Sesungguhnya aku keluar mengadakan revolusi bukan karena kecongkakan dan kesombongan, tetapi aku keluar mengadakan revolusi untuk memperbaiki agama dan ajaran kakekku Rasulullah Saw”.
Singkatnya bahwa titik persamaan tujuan antara revolusi Imam Husein As dengan revolsui Imam Khomeini Ra adalah untuk menegakkan syari’at dan keadilan Ilahi di muka bumi ini. Bisa juga diungkapkan bahwa revolusi Imam Khomeini Ra merupakan kepanjangan dari revolusi Imam Husein As. Sesungguhnya akar revolusi Imam Khomeini Ra adalah revolusi yang telah dicetuskan oleh kakek beliau Imam Husein As.
Mengapa revosuli Imam Husein As tidak membuahkan hasil yang nampak, yaitu berupa tegaknya pemerintahan Islam pada masa itu? Mengapa kerajaan Yazid yang zalim dan pemabuk tidak berhasil ditumbangkan oleh revolusi Imam Husein As? Tetapi kerajaan Syah Pahlevi yang ditopang oleh “Setan Besar” berhasil ditumbangkan sampai ke akar-akarnya dan Imam Khoeini Ra berhasil mendirikan sistem dan pemerintahan Ilahiyah?
Berbicara mengenai kesuksesan dan keberhasilan di dalam suatu perjuangan itu –mungkin bisa dikatakan- paling tidak ada dua tingkatan; sukses pada tingkatan maknawiyah dan sukses pada tingkatan lahiriyah. Sebuah perjuangan itu dikatakan sukses pada tingkatan maknawiyah, apabila orang-orang yang berjuang itu telah menjalankan tugas dan taklifnya dengan baik yakni sesuai dengan hidayah dan syari’at Ilahi. Karena itu jihad dan perjuangan para nabi, dari mulai nabi Adam hingga nabi khatam Saw untuk menegakkan syari’at dan keadilan Ilahi di muka bumi ini dikatakan sukses secara maknawiyah, walaupun mereka belum berhasil menegakkan Sistem dan pemerintahan Ilahiyah. Karena mereka telah berjihad dan berjuang di jalan Allah sesuai dengan syari’at dan hidayah Allah Swt.
Begitu juga dengan jihad dan perjuangan para Imam Maksum As, dari mulai Imam Ali As hingga Imam Hasan Askari As untuk menegakkan keadilan Ilahi dan sistem Ilahiyah. Jihad dan perjuangan mereka itu dikatakan telah sukses secara maknawiyah, karena mereka telah menjalankan jihadnya masing-masing sesuai dengan syari’at dan hidayah Ilahi, walaupun mereka belum berhasil mendirikan pemerintahan Ilahiyah secara nyata. Karena itu, dengan kesuksesan mereka itu secara maknawiyah, mereka mendapatkan ganjaran yang besar di sisi Allah Swt, yaitu kebahagiaan dan nikmat surga, baik surga barzakhi maupun surga ukhrawi kelak. Mereka seperti apa yang difirmankan oleh Alah Swt di dalam surat Ali Imran ayat 169 hingga ayat 172:
وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذينَ قُتِلُوا في‏ سَبيلِ اللهِ أَمْواتاً بَلْ أَحْياءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dalam perjuanhgan di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dan mereka mendapatkan rizki dan kenikmatan.
 فَرِحينَ بِما آتاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَ يَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
mereka di alam barzakh dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan kepada mereka, dan mereka memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka berkata janganlah kamu merasa khawarir dan jangan pula mersa sedih hati. 
 يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللهِ وَ فَضْلٍ وَ أَنَّ اللهَ لا يُضيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنينَ
Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah. Karena sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.
 الَّذينَ اسْتَجابُوا لِلَّهِ وَ الرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ ما أَصابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَ اتَّقَوْا أَجْرٌ عَظيمٌ
 Yaitu orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka di dalam perjuangan dan peperangan. Dan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan dan bertakwa di antara mereka ada pahala yang besar.
Revolusi yang dipimpin oleh Imam Khomeini Ra boleh dikatakan telah sukses baik secara lahiriyah maupun secara maknawiyah. Secara lahiriyah sudah jelas bahwa revolusi beliau itu telah menghasilkan berdirinya sistem dan pemerintahan Ilahiyah di Iran yang dari tahun ke tahun semakin eksis dan maju. Sedang secara maknawiyah beliau dan para pejuang yang bersama beliau yang kini telah berangkat lebih dulu meniggalkan dunia fana ini menuju ke alam Barzakh, telah mendapatkan kebahagiaan dan surga barzakhi untuk kemudian memasuki surga ukhrawi setelah terjadinya hari Kiamat nanti.
Kesuksesan Imam Khomeini Ra secara lahiriyah yang telah berhasil menjalankan undang-undang Islam –walaupun belum seratus persen- di dalam pemerintahan Ilahiyah di negeri Iran, merupakan impian dan harapan para nabi dan para maksumin As. Imam Khomeini Ra telah merealisasikan harapan manusia-manusia Ilahi di sepanjang masa. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa Imam Khomeini Ra lebih hebat dari kakek beliau Imam Husein As. Karena revolusi beliau sebagai kepanjangan revolusi kakeknya, karena revolusi beliau itu mengambil cara, corak dan tauladan dari revolusi kakeknya dan karena  revolusi beliau itu tidak lepas sedikitpun dari bimbingan Imam maksum yakni Imam Zaman ajf. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kemenangan dan keberhasilan revolusi Imam Khomeini Ra itu merupakan kemenangan revolusi Imam Husein As yang tertangguhkan. Karena agama dan ajaran Islam itu dari masa ke masa hanya satu. Seluruh umat Islam dari masa ke masa harus tunduk mengikuti ajaran yang satu itu. Karena itu kemenangan yang diperoleh di setiap masa oleh sekelompok kaum muslimin adalah merupakan kemenangan untuk semua umat Islam di seluruh dunia.
Apakah faktor yang menyebabkan revolusi Imam Husein As itu mengalami kekalahan atau kegagalan secara lahiriyah pada saat itu? Dan faktor apakah yang menyebabkan revolusi Imam Khomeini Ra itu mampu menumbangkan kerajaan zalim selama berabad-abad dan berhasil membentuk pemerintahan Ilahiyah yang eksis?
Jawaban singkat atas pertanyaan di atas adalah bahwa sebagian besar kaum muslimin berani mengkianati Imam Husein As dengan mengingkari janji mereka yang telah mereka ikat degan beliau As. Sebagian besar mereka merasa takut dan mundur bahkan terbujuk oleh tipu daya Yazid dan antek-anteknya. Sedangkan syarat utama kemenangan dalam sebuah perjuangan dan revolusi adalah adanya pemimpin yang berani, berilmu, berakhlak mulia dan memiliki sifat-sifat Ilahi lainnya, dan adanya para pengikuti yang setia dan loyal.
Sedangkan perjuangan dan revolusi Imam Khomeini Ra didukung penuh oleh kaum muslimin dan rakyat Iran pada masa itu. Seandainya rakyat Iran lebih banyak yang berkhianat kepada beliau pada saat itu, maka sudah pasti revolusi Imam Khomeini pun akan mengalami kegagalan dan pemerintahan Ilahiyah tidak akan terbentuk.
Apa sebenarnya yang membuat rakyat Iran begitu mencitai Imam Khomeini Ra dan dengan penuh setia mereka mengikuti dan berani berkorban demi keberhasilan revolusi beliau?
Salah satu jawaban atas pertanyaan tersebut dapat kita temukan pada ayat 96 di dalam surat Maryam :
إِنَّ الَّذينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمٰنُ وُدًّا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan rasa kasih sayang di dalam hati mereka “.
Sesungguhnya ilmu, iman dan takwa itu memiliki gradasi dan derajat yang sangat banyak. Ilmu, iman dan ketakwaan setiap orang akan memiliki efek dan pancaran cahaya sesuai dengan kadarnya masing-masing. Hal itu merupakan sesuatu yang jelas dan tidak diragukan lagi.
Mungkin cahaya atau lampu ilmu, iman dan takwa seseorang hanya dapat menerangi jalan hidupnya buat pribadinya sendiri. Ada lagi seseorang yang sinar ilmu, iman dan takwanya itu dapat menerangi jalan-jalan hidup seluruh kelurganya. Ada lagi orang ketiga yang ilmu, iman dan takwanya itu dapat menerangi masyarakat sekampungnya atau rakyatnya dalam satu negara. Dan begitulah seterusnya.
Nah pelita cahaya ilmu, iman dan ketakwaan Imam Khomeini Ra dapat menerangi seluruh umat Islam yang mempunyai potensi menerima cahaya itu. Bahkan iman ketakwaan dan amal saleh beliau menyampaikan beliau kepada suatu derajat dimana Allah Swt meletakkan rasa cinta, kasih sayang dan kesetiaan di dalam hati umat Islam hingga mereka berani berjuang dengan setia membela beliau. Jadi itulah rahasia kehebatan ilmu, iman, ketakwaan dan amal saleh.
Jika Anda bertanya: Bagaimana Imam Khomeini Ra bisa memperoleh ilmu pengetahuan yang begitu banyak dan di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti tafsir, kalam, fikih, usul, filsafat, irfan, bahkan ilmu politik, ekonomi dan peperagan, sementara beliau tidak pernah mengecap bangku kuliah di universitas manapun?
Jawabnya adalah bahwa ilmu pengetahuan itu seluruhnya datang dari Allah Swt. Dan seluruh ilmu itu akan Allah turunkan kepada hamba-hamba-Nya yang memiliki potensi dengan dua jalan. Jalan yang pertama adalah dengan jalan kasbi atau dengan jalan usaha secara biasa dari para hamba-Nya itu. Seperti belajar di sekolah melalui pengajaran guru-guru atau dengan jalan kuliah di sebuah universitas melalui pengajaran para dosen. Cara pertama ini memerlukan waktu yang cukup lama.
Jalan yang kedua adalah dengan jalan isyraqi atau dengan jalan ilmu ladunni yang langsung Allah turunkan kepada hamba-hamba-Nya yang tertentu yang telah betul-betul menyiapkan dirinya untuk itu. Ilmu ladunni atau ilmu isyraqi ini tetap dibuka oleh Allah Swt dan tidak ditutup hingga akhir masa. Dan Allah Swt akan memberikan atau menurunkannya kepada setiap hamba-Nya yang mempunyai potensi untuk menerimanya.
Lalu bagaimana cara memperoleh ilmu ladunni atau isyraqi yang langsung dari Allah Swt itu?
Secara teori tentu hal itu sangat mudah. Tetapi pada tataran praktis, hanya sedikit sekali oang-orang mukimin yang mampu menerima ilmu ladunni atau isyraqi langsung dari Allah Swt. Caranya adalah sesuai dengan petunjuk dan bimbingan Al-Qur’an al-Karim.
 Allah Swt berfirman di dalam surat Al-Baqarah ayat 282. Allah Swt berfirman :
وَ اتَّقُوا اللهَ وَ يُعَلِّمُكُمُ اللهُ وَ اللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
“Bertakwalah kamu semua kepada Allah, maka Allah akan mengajarkanmu (berbagai ilmu pengetahuan), karena sesungguhnya  Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu”.
Apa itu takwa? Takwa ialah menjalankan semua perintah yang datang dari Allah Swt dan menjauhkan semua larangan-Nya. Sudah tentu bahwa takwa itu harus berlandaskan pada ilmu dan iman yang benar. Dan takwa itu bergradasi atau memiliki derajat yang sangat banyak sekali. Singkatnya adalah bahwa takwa yang berlandaskan pada ilmu dan iman yang benar dan pada tingkatan tertentu akan menyampaiakan seseorang pada tingkatan dimana ia berhak menerima ilmu ladunni atau ilmu isyraqi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan Imam Khoneini Ra yang begitu banyak dan mendalam, sementara beliau tidak pernah kuliah (maksudnya jadi mahasiswa), beliau peroleh dengan jalan ladunni dan isyraqi karena ketakwaan beliau yang sangat tinggi. Takwa merupakan kunci sukses revolusi Imam Khomeini Ra bersama rakyat Iran yang akan mereka peringati pada tangga 22 Bahman pada bulan ini (10 Pebruari 2017).
Tidak ada yang ditakuti oleh seluruh musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin dari kaum kafirin, musyrikin, munafikin dan fasikin selain semakin tersebarnya tuntutan masyarakat dunia dan tekad mereka untuk menegakkan keadilan sosial di seluruh dunia yang dipelopori oleh Imam Ali Khamene’i Hf. Dan kini teriakan kaum mustadh’afin di seluruh dunia semakin nyaring. Yakinlah tuntutan mereka itu akan segera terealisasi dalam waktu dekat.  إنهم یرونه بعیدا و نراه قریبا “Musuh-musuh itu melihat kenyataan itu masih jauh. Tetapi kami melihatnya sudah sangat dekat”. []
[Abu Qurba]
Sumber: bagendaali.com

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram