Dua Hak Ulama Rabbani atas Ummat Islam

  • News Code : 809082
  • Source : ABNA
Brief


Sebagai pewaris, seyogyanya, apa yang dimiliki para nabi juga ada para ulama. Baik itu mengenai kekuatan iman, ketinggian ilmu, keluhuran akhlak, kegigihan membimbing ummat dan kesanggupan untuk terus berjuang di jalan agama. Karena itu pemuliaan dan penghormatan sudah semestinya juga didapat oleh ulama dari ummatnya.

Allah Swt adalah Zat yang Hakim, yang Maha Bijaksana dan Maha Berilmu. Ketika Allah Swt menetapkan manusia sebagai makhluk sosial maka Allah Swt pun menurunkan aturan-aturan yang sangat detail dan indah yang bisa mengatur kehidupan manusia.

Hubungan sosial tidak akan bisa terbangun dan terwujud dengan baik, tanpa ada hak-hak yang dimiliki oleh setiap indiviu. Dengan hak-hak ini maka kehidupan masyarakat akan menjadi kehidupan yang indah. Karena jika tidak ada hak yang dimiliki setiap individu di tengah-tengah masyarakat maka hal itu meniscayakan masyarakat tersebut akan kacau dan tidak tertib. Karenanya, jika kita melihat sistem bernegara di negara kita, orang-orang yang duduk di DPR bertugas merancang aturan-aturan yang kemudian diberlakukan ditengah-tengah masyarakat, dengan tujuan masyarakat indonesia menjadi masyarakat yang tertatur, saling mendamaikan dan membahagiakan. DPR menentukan hak-hak yang harus didapat dari setiap individu yang ada dimasyarakat, sekaligus mengatur apa saja menjadi kewajiban dari setiap individu tersebut.

Demikian pula  dengan metode pengaturan Allah Swt. Ketika Allah Swt hendak mengatur manusia sebagai makhluk sosial maka sudah pasti Allah Swt akan memberikan hak-hak pada setiap individu. Ketika berbicara tentang kehidupan sosial, maka akan ada status-status yang bermunculan. Ada status ustad, ada status guru, ulama, rakyat,, pemimpin, ayah, anak, suami, istri dan sebagainya. Status-status tersebut memerlukan hak-hak tertentu supaya kehidupan sosial bisa berjalan dengan tertib dan damai.

Diantara status-status tersebut, yang difokuskan pada tulisan ini, adalah mengenai hak-hak ulama. 

Jika kita membuka lembaran-lembaran literatur Islam, maka akan kita temukan, bahwa Allah Swt telah mengatur hak-hak ulama. Allah Swt mengangkat ulama, sebagai pondasi tubuh ummat, jika ummat tidak memiliki ulama, maka ummat ini akan goyah bahkan runtuh karena tidak memiliki suatu dasar yang kuat, 

Sebelum kita jelaskan hak-hak ulama atas ummat, perlulah menjelaskan tentang keutamaan para ulama terlebih dahulu.

Pertama, ulama berbeda kedudukannya dengan yang bukan ulama. 

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama antara orang yang alim dan orang yang tidak alim?” (QS.Az-Zumar: 9).

Allah Swt dengan pertanyaan ini hendak membangkitkan kesadaran kita. Bahwa kalau kita ingin menjadi orang yang terhormat maka wajib untuk kita memiliki ilmu, harus menuntutnya. Jika ingin memiliki kedudukan di sisi Allah Swt maka bekali diri dengan ilmu.

Kedua, Allah Swt meninggikan derajat ulama dari yang lain

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kalian beberapa derajat, dan Dialah yang Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah:11)

Lewat ayat diatas, Allah Swt menegaskan, bahwa Dia mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu melebihi derajat hamba-hamba yang lain. Dalam ayat tersebut, kita bisa memahami bahwa seseorang yang berilmu memiliki derajat yang tinggi. Kalau kita meyakini bahwa  Allah Swt adalah al-Ilmu, maka tentu saja Allah Swt pasti mencintai hamba yang berilmu, sebab ilmu adalah dari-Nya. 

Imam Baqir As meriwayatkan hadis dari Rasulullah Saw melalui sanad ayah dan kakeknya sampai kepada Rasulullah Saw, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda," Seseorang yang berilmu yang dia manfaatkan dan mengamalkan ilmunya, maka kedudukannya lebih baik dari 70.000 seorang abid."

Abid artinya orang yang selalu beribadah kepada Allah, berzikir dan mengigat Allah Swt dalam setiap keadaan. Namun abid tersebut dengan semua amalan ibadahnya, kedudukannya masih dibawah ulama yang mengamalkan sesuatu berdasarkan ilmu dan hujjah. Ia manfaatkan ilmu yang dimilikinya dan mengamalkannya. Amalan seorang yang berilmu amalannya bernilai, karena sesuai makrifat. Amalan seseorang akan bernilai disisi Allah bergantung makrifat yang dia miliki mengenai Allah Swt. Ilmu tanpa amal, bagaikan pohon tanpa buah, tidak bisa memberikan manfaat yang lebih banyak.

Mengenai keutamaan ilmu, tidak terbantahkan lagi, bahwa kita tidak akan bisa hidup dengan baik tanpa ilmu. Makanya dalam hadis Rasulullah Saw dikatakan bahwa kebahagiaan duniawi dan ukhrawi tergantung dengan ilmu kita.

Kita bisa melihat dunia Barat. Karena mereka memiliki ilmu tentang alam semesta. tentang ciptaan Allah Swt yang ada di bumi lewat eksprimen dan rangkaian ekspedisi penelitian tanpa henti, maka kehidupan merekapun berkembang dan maju. Orang-orang muslim yang mereka tidak meneliti  ciptaan-ciptaan  Allah Swt segetol mereka, maka akhirnya ketinggalan dari orang-orang Kafir, yang tidak beriman kepada Allah Swt. Jadi ilmu adalah syarat utama untuk bisa maju, adalah syarat utama untuk bisa mencapai kebahagiaan. 

Ketiga, yang takut pada Allah Swt hanyalah ulama. 

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Surat Fathir: 28)

Mengapa dikatakan hanya yang ulama saja yang takut kepada Allah Swt? jawabannya, karena hanya ulama yang memiliki tingkat keilmuan yang tinggi mengenai Allah Swt. Yang namanya rasa takut itu bergantung dengan makrifat. Contoh, jika seseorang tidak mengetahui bahwa ular itu membahayakan maka kita tidak akan takut pada ular. Jika kita tidak mengatahui bahwa harimau itu buas, maka kita tidak akan takut pada harimau. Jadi, rasa takut yang ada dalam diri kita bergantung pada makrifat kita.

Jika kita tidak mengetahui tentang sesuatu.maka kita tidak akan takut padanya. Demikian pula dengan rasa takut pada Allah Swt. Orang yang takut pada Allah Swt pasti karena didasari pengenalan pada Allah Swt dan mengetahui kesempurnaan-kesempurnaanNya. Karenanya Allah mewajibkan kita mendalami dan memperkuat aqidah kita. Dalam kitab Nahjul Balaghah, tersimpan perkataan Imam Ali As yang menyebutkan bahwa sesuau yang pertama yang harus kita pelajari terlebih dahulu dari agama, adalah Makrifatullah. 

Tidaklah seseorang menjadi Mukmin yang hakiki, jika tidak memiliki dua hal yaitu rasa takut dan harapan. Dan keduanya hanya bisa didapatkan dengan makrifat. Karena hanya orang berilmu saja yang takut pada Allah, maka Allahpun mengangkat derajat mereka. Dalam sejumlah hadis disebutkan mengenai kedudukan orang yang berilm, yaitu barang siapa yang menuntut ilmu maka sebenarnya langkah-langkahnya sedang mengarah ke surga Allah. Mereka yang menuntut ilmu  dimuliakan para malaikat dan mulia disisi makhluk-makhluk Allah lainnya. Mereka yang menuntut ilmu dimohonkan ampun oleh apa-apa yang ada di langit dan dibumi. 

Keempat, ulama adalah pewaris Nabi

Dalam sebuah hadis disebutkan, ulama adalah pewaris para Nabi.  Hadis tersebut menunjukkan kedudukan ulama yang sedemikian tinggi. Merekalah yang mewarisi keilmuan para nabi, sebab nabi mewariskan ilmunya untuk tetap dipelihara dan disampaikan ditengah-tengah masyarakat. Ulama adalah pemegang tongkat estafet kenabian dengan memanggul amanah dan kerja-kerja kenabian. Merekalah yang menjaga ajaran agama agar tetap tersampaikan dengan baik kepada generasi-generasi selanjutnya. Peran ulama sangat besar dalam menjaga kelestarian agama. 

Hak Ulama atas Ummat

Ada dua hak ulama atas ummat yang wajib untuk ditunaikan. 

Pertama, kita harus menghormati ulama-ulama kita.

Allah Swt memposisikan ulama dengan kedudukan yang tinggi. Melalui lisan Nabi-Nya,ulama disebut sebagai pewaris para Nabi. Artinya, jika kita diwajibkan dalam syariat mencintai Nabi, maka artinya kewajiban yang sama dari ummat untuk juga mencintai ulama. Memuliakan Nabi wajib hukumnya, maka wajib pula memuliakan pewarisnya.

Sebagai pewaris, seyogyanya, apa yang dimiliki para nabi juga ada para ulama. Baik itu mengenai kekuatan iman, ketinggian ilmu, keluhuran akhlak, kegigihan membimbing ummat dan kesanggupan untuk terus berjuang di jalan agama. Karena itu pemuliaan dan penghormatan sudah semestinya juga didapat oleh ulama dari ummatnya. 

Namun tetap harus digaris bawahi, bahwa ulama yang dimaksud adalah ulama yang benar-benar menegakkan agama Allah Swt. Bukan orang-orang yang berkedok ulama yang kesibukannya berkecimpung pada masalah-masalah duniawi dengan memperjual belikan ayat-ayat Allah Swt untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.  Ulama yang dimaksud adalah yang mengetahui secara benar ajaran-ajaran suci agama dan mengajarkannya kepada ummat juga dengan cara-cara yang benar, sehingga misi kenabian menyelamatkan umat manusia dari kesesatan dan kekufuran bisa mereka jalankan. 

Kepada ulama yang demikian, Imam Musa bin Ja'far mengatakan, melihat wajahnya yang didasari kecintaan, adalah bentuk ibadah kepada Allah Swt. Mengapa dikatakan melihat wajah ulama saja bisa terkategorikan sebagai bentuk ibadah? Sebab, bagi yang benar-benar ulama, ketika melihatnya, maka akan memancing kita untuk tiba-tiba teringat Allah Swt, teringat akan dosa-dosa, teringat akan sulitnya kita mencapai ilmu dan derajat sebagaimana yang dimiliki ulama karena kelalaian-kelalaian kita yang disebukkan dengan urusan dunia. Bahkan terkadang, ketika melihat wajah seseorang yang alim, kita tiba-tiba bersedih bahkan menangis meneteskan airmata, karena sesungguhnya ulama adalah cermin yang memantulkan kondisi batiniah kita. Ia membuat kita berkaca akan siapa diri kita, akan diri kita yang banyak dosa dan kemaksiatan kepada Allah Swt.

Hak kedua, berbuat baik pada mereka. 

Berbuat baik yang dimaksud adalah membantunya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dan meringankan beban ekonominya atau dengan kata lain membantunya dari sisi finansial. Ulama itu mendapatkan ilmunya, bukan didapat dengan berleha-leha dan santai melainkan dengan upaya keras belajar tanpa henti. Waktunya semuanya diisi dengan aktivitas keilmuan; membaca kitab, menelaaah dan mengajarkannya kepada ummat. Ia wakafkan semua waktunya untuk membantu ummat mengetahui ajaran-ajaran Allah Swt. Tentu saja waktu yang digunakan sepenuhnya untuk aktivitas keilmuan itu, membuat ulama tidak bisa selowong kelompok manusia lainnya dalam mencari nafkah dan penghasilan hidup. Karenanya, kita yang tidak berkecimpung dalam dunia keilmuan, dan cukup menerima hasil dari kerja-kerja keilmiahan ulama untuk langsung diamalkan, sudah semestinya menjadi wasilah bagi mereka mendapatkan rezeki Allah Swt untuk menjalankan roda kehidupan mereka. Ulama juga manusia, yang butuh makan, yang juga punya keluarga untuk dinafkahi, karenanya membantu ulama dari sisi finansial menjadi kewajiban ummat yang tidak boleh dilalaikan.

[Disarikan dari ceramah Ust. Abdul Latief, Lc di kota Qom, mahasiswa program studi magister di Universitas Internasional al-Mustafa Republik Islam Iran]


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram