Bagaimana Kita Semestinya Menyambut Tahun Baru?

  • News Code : 801852
  • Source : bagendaali.com
Brief

Menyambut Tahun baru adalah sesuatu yang baik. Karena menjadikan hidup lebih harmonis dan tidak monoton. Sesuatu yang baru memberikan kesan yang baik.

Beberapa saat lagi kita akan melewati tahun 2016 dan akan memasuki tahun baru 2017. Sebagai orang yang setiap hari bergelut dengan kehidupan dunia, khususnya yang bergelut di bidang ekonomi, bisnis dan perdagangan, Menjadi hal yang wajar jika pada akhir tahun selalu menghitung berapa keuntungan yang didapatkan dari tahun kemarin, berapa laba yang didapat dari usaha di tahun-tahun kemarin untuk dijadikan acuan untuk merancang program jangka panjang untuk tahun-tahun yang akan datang. Dalam masalah keduniaan, hal ini merupakan hal yang wajar.

Dalam masalah spiritual dan akhirat kita pun demikian.

Menyambut Tahun baru adalah sesuatu yang baik. Karena menjadikan alur kehidupan menjadi lebih dinamis dan tidak monoton. Sesuatu yang baru selalu memberikan kesan yang baik. Tahun yang lama akan kita tinggalkan dan menuju pada tahun yang baru, pemikiran yang baru, cita-cita yang baru, rencana hidup yang baru dan segala sesuatunya kita mulai dari yang baru. Lalu apa program kita ke depan dalam menghadapi tahun baru 2017? Apa yang kita pikirkan untuk menghadapi tahun baru? apakah sudah pernah terpikirkan oleh kita apa yang sudah kita kerjakan pada tahun-tahun kemarin? Seberapa jauh keberhasilan yang sudah kita capai untuk meningkatkan ketakwaan kita ? perbuatan-perbutan baik apa yang sudah kita lakukan dan perbuatan buruk apa yang sudah kita lakukan di tahun-tahun kemarin ?

Apakah bawahan saya rela dengan perbuatan-perbuatan saya, apakah atasan saya ridho dengan sikap saya? Apakah kawan-kawan di sekitar saya senang dengan perbuatan saya? Apakah keberadaan saya hanya merusak suasana ataukah membahagiakan orang-orang di sekitar saya?

Apakah kita sudah memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini?

Apakah kita sudah menghitung seberapa jauh hubungan kedekatan kita kepada Allah Swt? Seberapa besar ketakwaan kita kepada Allah Swt? Berapa banyak ketaatan kita di tahun-tahun kemarin dan seberapa banyak dosa-dosa yang telah kita lakukan di tahun kemarin?

Ini semua yang menjadi bahan muhasabah diri kita untuk menghadapi tahun baru yang sebentar lagi akan kita lalui. Pergantian tahun ini kita jadikan sarana yang baik untuk kita lebih menilai diri kita sendiri, berapa umur kita yang sudah kita lewati dan jangan sampai tahun ini merupakan penutup umur kita, naudzu billah.

Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab, timbanglah dirimu sebelum engkau ditimbang di hari hiamat dan bekalilah dirimu untuk persiapan hari kiamat” demikian sabda Nabi Saw.

"Bukan dari kami (tidak termasuk orang yang beriman) orang yang tidak mnghisab dirinya setiap hari, Jika dia mendapati dirinya berbuat baik, maka mintalah semoga Allah Swt menambahkan kebaikan itu padanya serta bersyukur dan memuji Allah karenanya, dan jika dia mendapati dirinya berbuat keburukan hendaklah dia beristighfar kepada Allah dan bertobat”.

Petuah-petuah tadi menganjurkan kepada kita untuk memulai hari-hari kita dengan berfikir atau muhaasabatun nafs tentang amalan-amalan di tahun-tahun kemarin dan yang akan datang

Tahun baru adalah sesuatu yang baik jika kita mempergunakannya dengan baik. Ini merupakan suatu kesempatan yang berharga bagi kita untuk mengingat kembali pekerjaan baik apa yang telah saya lakukan dan perbuatan buruk apa yang sudah saya lakukan. Jika kita merasa telah melakukan perbuatan yang baik maka sepatutnyalah kita bersyukur atas nikmat tersebut dan Jika kita merasa apa yang kita lakukan tidak baik maka selayaknya kita untuk tidak mengulanginya di tahun-tahun mendatang dan kita harus berfikir untuk memperbaiki kekurangan kita. Dan ini pun berlaku dalam semua lini kehidupan manusia.

Apa yang harus kita fikirkan atau apa saja bahan muhasabatun Nafs (introspeksi diri) kita?

Pertama, hal pertama yang harus kita pikirkan adalah hubungan kita dengan pencipta kita, hubungan vertikal kita dengan Allah Swt. Manusia selain memiliki hubungan horisontal antar sesama manusia juga memiliki hubungan vertikal dengan Allah Swt. Kedua hubungan ini harus seirama. Hablum minallah dan Hablum minnannas. Kita melihat bahwa dalam hubungan kita dengan Allah ada sisi positif yakni ketaantan kita kepada-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya dan sisi negatifnya yakni dosa-dosa kita. Dosa-dosa yang dibiarkan, jika kita tidak berusaha untuk meninggalkannnya maka lama-kelamaan kita akan menjadi terbiasa dengan perbuatan dosa itu. Jika kita sudah terbiasa dengan perbuatan dosa maka kita tidak lagi menganggap dosa itu besar di mata kita. Justru dosa itu akan kita anggap kecil dan dengan demikian kita akan terus melakukan dosa itu. Bahkan yang lebh burk lagi kita akan menganggap dosa itu bukan lagi suatu dosa. Dan ini yang berbahaya.

Kedua, adalah hubungan kita dengan diri kita sendiri. Dalam diri kita ada yang namanya hati nurani, hati kecil kita. Kadang kita tidak jujur terhadap diri kita sendiri. Kita bisa membohongi orang lain tapi kita tidak bisa membohongi hati kecil kita. Inilah kesejatian diri manusia yang sesungguhnya. Inilah batin manusia yang kadang berbicara pada diri kita sendiri. Dengan seringnya manusia melakuan dosa maka suara hati itu akan semakin kecil terdengar oleh diri kita sendiri dan lambat laun kita tidak mendengarnya sama sekali. Dengan datangnya tahun baru kita berusaha untuk memperbaharui diri kita sendiri bahwa besok kita akan menjadi manusia yang baru yag beda dengan tahun yang kemarin. Kita dengan pemikiran yang baru, dengan cita-cita yang baru dan semangat yang baru.

Ketiga memulai hari-hari kita dengan perbuatan yang baik. Apa perbuatan baik yang pantas kita kerjakan sebagai penanda tahun baru? Dalam hadis-hadis dari Rasulullah Saw mengatakan Shalat adalah suatu perbuatan yang baik.

Amalan manusia yang pertama dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya, jika didapati sempurna maka diterimalah seluruh amalannya dan jika didapati kurang maka akan tertolaklah seluruh amalannya”.

Shalat adalah amalan yang sangat penting olehnya itu kita harus memandang penting amalan ini. Bagaimana cara kita memandang penting amalan ini? Dengan memberikan perhatian penuh pada shalat kita. Shalat yang sempurna adalah shalat yang dilakukan dengan hadirnya hati. Shalat yang dilakukan dengan perhatian yang penuh bahwa kita sedang melakuan shalat dan sedang berhadapan dengan Allah. Shalat yang dilakukan tanpa hadirnya qalbu atau hati ibaratnya kita tidak shalat. Harus diperhatikan apa yang sedang kita baca. Sadar bahwa kita sedang berbicara dengan pencipta kita. Bahwa kita sedang meminta dan bermohon pada sang khalik kita.

Yang terakhir adalah kita berupaya dalam setiap pekerjaan dan aktivitas kita, semuanya kita niatkan karena Allah. Semua apa yang kita lakukan kita beri warna spiritual, nuansa spiritual atau warna ke-ilahi-an. Kita berjanji untuk semua kegiatan dan gerak kehidupan kita, kita niatkan sebagai jihad kita di jalan Allah.

Wahai yang Maha membolak-balikkan hati dan penglihatan

Wahai yang Maha pengatur siang dan malam

Wahai yang Maha mengubah keadaan manusia

Gantilah keadaan kami dengan keadaan yang lebih baik.

Selamat menyambut tahun baru 2017. 

[Asrar Aqdas]




Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram
IKHLAS

IKHLAS

SYUKUR

SYUKUR

IHSAN

IHSAN