Maktam Refleksi Pengagungan Syiar Ilahi

  • News Code : 783064
  • Source : www.syiahahlilbait.com
Brief

Sungguh orang yang mengatakan Maktam adalah Nyanyi atau bernyanyi sedang merendahkan peran suci dari esensi Maktam itu sendiri. Secara tidak langsung , sedang membantu kaum-kaum anti gerakan Huseini yang membenci pemaktam sebagai pengobar api bara kecintaan kepada keluarga Rasulullah saww.

Ketika memasuki bulan Muharram seluruh pecinta Ahlul-bayt berbondong-bondong memakai seragam hitam, sebagai tanda musim kesedihan dan ratapan telah tiba.

Muharram disebut dengan Bulan duka dan musibah.  Imam Zainal Abidin as ketika memasuki bulan Muharram tidak pernah sekalipun tersenyum, begitu pula dengan para Imam yang lainnya.

Muharram adalah bulan terbantainya cucu Rasulullah saww, sahabat dan keluarganya.  Para Malaikat menangis, Para Nabi meratap khususnya: Adam as, Ibrahim as, Zakariya as, Yahya as dan Muhammad saww.  Meratap, menangis dan segala ekspresi kesedihan dengan cara-cara yang diridhai Allah swt adalah bentuk kecintaan kita kepada Kebenaran dan keadilan yang termanifestasi dalam diri Imam Husein as dan rombongannya.

Falsafah Karbala

Rasulullah saww bersabda,

ما من نبی جاء الا و قد ذکر الحسین

Tidaklah seorang Nabi diutus, kecuali mereka mengabarkan tentang Al-Husein as.

Seluruh Nabi terkhusus para Nabi “Ulil azm” mereka meratap, menangis dan mengabarkan kejadian tragis yang menimpa Imam Husein as. Semua kejadian itu terangkum dalam kitabAl-Awalim karya Al-Bahrani.

Begitu pula dalam peringatan-peringatan besar Islam, selalu Allah swt selipkan Ziyarah Imam Husein as didalamnya. Peringatan Al-Qadr, Sya’ban, Idul Adha dan peringatan besar lainnya terdapat Ziyarah Khusus Imam Husein as didalamnya, seakan ingin mengabarkan kepada kita bahwa Imam Husein as harus selalu ada di setiap momen-momen besar ke-Islaman.

Allah swt memasukan Ziyarah Imam Husein as disetiap momen keislaman bukan tanpa tujuan, Ia ingin memberitahukan bahwa perjuangan melawan kedzaliman yang termanifestasi didalam Imam Husein as harus terpompa didalam nadi-nadi kaum Muslimin.

Ketika Islam di injak-injak, dihinakan dan diremehkan serta nilai-nilai keadilan sudah tidak lagi dihiraukan, maka Karbala dan Huseini- Huseini baru akan selalu ada dan tampil dikancah kehidupan dan kemanusiaan membela norma-norma Islam dan keadilan.

Untuk itu menghidupkan acara  sepuluh malam Muharram adalah refleksi dari mengagungkan syiar-syiar Allah swt.

 

 

Allah swt berfirman dalam surat Hajj ayat 32:

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu alamat dari ketakwaan hati.

Makna Sya’aair (Syiar)

Sya’aair «شعائر» adalah jamak dari Sya’iirah «شعیرة» secara bahasa  bermakna Alamat, penunjuk,pertanda dan isyarat. (Qamus al-Quran sayid Ali Akbar juz.4 hal.42)

Adapun makna secara Istilah  Fiqhi adalah sebuah tempat untuk melakukan Ibadah tertentu.

Adapun Makna Qurani dan Teologi adalah Segala hal yang dengannya,  menjadikan manusia  dekat kepada Allah swt dan  Ingat padaNya. (Raudhah bahiyyah fi syarh lum’ah dimasyqiyyah juz.1 hal. 217 cetakan daftar tablighat Islami –Qom)

Adapun Syiar yang menyebabkan ketakwaan hati, Allamah Thabathabai membaginya menjadi dua:

  1. Syiar hakiki yang bersumber dari Ilmu, Iman dan hati yang dipenuhi cahaya kecintaan Ilahi.
  2. Syiar tidak hakiki (dusta) yang bersumber dari klaim, kejahilan, ego dan merasa dicintai dan diridhai.

Ketika seseorang meninggikan dan mengagungkan Syiar Allah swt jika menjadikan jiwa dan hatinya semakin dekat kepada Allah swt dan mentaati Allah swt, maka syiar tersebut adalah syiar yang benar.

Namun jika seorang hamba tidak merasakan kedekatan, kecintaan dan ketaatan kepada Allah swt, maka hal tersebut bukanlah bagian dari syiar-syiar Allah swt.

Muharram tidak bisa dipungkiri adalah tanda-tanda Syiar Ilahi  yang paling agung. Bahkan Muharram adalah Syiar itu sendiri, tanpanya sendi-sendi Islam akan hancur. Tanpanya seperti yang dikatakan Imam Husein as, “Ucapkan selamat tinggal kepada Islam, jika agama ini dipimpin oleh orang seperti Yazid.”

Jika Haji, Shalat, Puasa, Zakat dan Khumus adalah tanda-tanda syiar Allah swt, maka Muharram dan Karbala adalah esensi dari Syiar itu sendiri yang tanpanya tidak ada haji, shalat, puasa dan Atribut keagamaan lainnya.

Bahkan Imam Khomeini mengatakan dikarenakan menghidupkan Muharram dan Shafar,  Islam Muhammadi tetap tegak dan menjadi inspirasi kebangkitan revolusi Islam Iran tahun 1979.

Maktam dan esensinya bagian dari syiar Allah swt

Menghidupkan acara-acara Muharram dan kesyahidan Imam Husein as tidak bisa lepas dari Ceramah, Maktal, Maktam dan doa Ziarah. Ceramah sebagai penjelasan intelektual Karbala dalam berbagai pandangan baik itu Sejarah,Tafsir,Filasafat, Irfan,Fiqih, Politik, Teologi dan lainnya.

Maktal adalah pembacaan kronologis pertistiwa Karbala sebagai Ibrah dan contoh untuk kita agar tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan umat-umat terdahulu. Mengenal kesedihan, kehausan, penderitaan dan musibah besar yang menimpa keluarga suci Rasulullah saww,  walaupun tidak mungkin mampu melukiskan keadaan yang sebebenarnya.

Maktam adalah syair-syair duka yang dibaca untuk mengekspresikan kesedihan kita.

Ya, tidak diragukan lagi Muharram dan esensinya (Ceramah, Maktal,Maktam,Ziyarah) adalah pengagungan syiar-syiar Allah swt. Membawa dan menggiring yang hadir kepada kesadaran beragama dan berakidah serta menjungjung tinggi nilai-nilai keadilan dimanapun kita berada.

Esensi Maktam

Sangat menyedihkan dan disesalkan kepada orang-orang yang menyamakan maktam dengan bernyanyi atau menyanyi. Secara esensi sangatlah berbeda satu dengan yang lainnya.

Perbedaan Nyanyi “Urfi” dengan Maktam

Seperti pembahasan sebelumnya bahwa Maktam adalah bagian dari pengagungan Syiar Allah swt, sangat naïf jika orang dengan mudahnya, bahkan itu keluar dari mulut orang berpendidikan mengatakan bahwa Maktam atau Na’i adalah “Nyanyi”.

Adapun salah- satu perbedaan keduanya adalah:

  1. Maktam membawa manusia mengingat Allah swt dan mengingat kesedihan yang menimpa keluarga suci kenabian, sedangkan bernyanyi (makna urfi) menjauhkan manusia dari Allah swt dan cenderung manusia menjadi lalai,terlena dan melakukan dosa.
  2. Maktam membawa manusia dan yang mendengarnya mencintai syahadah, sedangkan nyanyi membawa manusia cinta kepada dunia. (Harta, Tahta dan Wanita)
  3. Maktam sebagai salah satu syiar Allah swt dalam menghidupkan Islam dan kecintaan kepada Ahlul-bayt, sedangkan nyanyi menghancurkan sendi-sendi Islam.
  4. Maktam menjadikan manusia cinta kepada Ahlul-bayt, sedangkan nyanyi menjauhkan manusia dari Ahlul-bayt dan perbedaan-perbedaan lainnya.

Mengatakan seorang yang bermaktam dengan bernyanyi, tidak lain sedang menyamakan pemaktam dengan penyanyi-penyanyi kondang ahli dunia. Naif dan menjijikan seorang yang sedang berziarah dengan perantara syair dan mencoba membawa para pecinta Huseini menuju pintu kesedihan keluarga Ahmad Al-Musthafa, disamakan dengan “penyanyi” yang notabene-nya  seperti Ari Lasso, Ahmad Dhani, Krisye dan penyanyi-penyanyi lainnya, baik itu lokal ataupun Internasional.

Salah satu aspek penyebab Iran mampu bertahan ketika perang berkecamuk selama delapan tahun dengan Saddam adalah dengan MAKTAM.

Sebelum berangkat perang, para relawan perang (BASIJ) membentuk sebuah lingkaran dengan diisi tengah-tengahnya seorang yang membacakan syair duka (Pemaktam). Ketika mereka sudah mulai tenggelam menuju Karbala dengan teriakan yaa.. Husein.. mereka menuju kemedan laga dengan kecintaan syahadah tanpa mengenal rasa takut.

Ketika para tentara sudah memanas dengan maktam-maktam huseini, mereka berangkat ke medan laga dengan semangat Ali Akbar, abul Fadhl Abbas, Qasim, Habib bin Madhahir dan semangat Huseini. Pemaktam inilah kini yang diwaspadai oleh Amerika dan Zionis karena perannya sebagai pembakar semangat Huseini bisa menghancurkan kepentingan-kepentingan mereka.

Untuk itu, pemaktam memiliki peranan penting dalam Revolusi kebangkitan Imam Husein as dizaman kita ini. Mereka Tonggak kemenangan Hizbullah dan Iran dalam mengobarkan semangat Abbasi.

Tepukan dada mereka sebagai lambang kesetiaan kepada keadilan dan kebenaran serta menolak segala jenis kedzaliman dan penindasan.

Sungguh orang yang mengatakan Maktam adalah Nyanyi atau bernyanyi sedang merendahkan peran suci dari esensi Maktam itu sendiri. Secara tidak langsung , sedang membantu kaum-kaum anti gerakan Huseini yang membenci pemaktam sebagai pengobar api bara kecintaan kepada keluarga Rasulullah saww.

Kini mulai sekarang,  Stop menyamakan esensi maktam dengan Bernyanyi.

Falillah turja’ul umur..

[Abu Syirin Al-Hasan]


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

پیام امام خامنه ای به مسلمانان جهان به مناسبت حج 2016
We are All Zakzaky
Telegram