Artikel Islam:

Pohon Tauhid

Oleh karena itu, mempersiapkan, menyuburkan, dan mengolah lahan bagi pertumbuhan tanaman tauhid merupakan sebuah kemestian. Bagi orang yang memang lahannya sudah kering bak padang pasir, janganlah ia berkhayal untuk dapat menumbuhkan tanaman apapun, sebelum mengolah dan memupuknya agar menjadi subur. Artinya, meskipun tanah itu kering, itu bukan berarti tanaman tauhid tidak akan bisa tumbuh (karena masih bisa diolah lagi).

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu mengingatnya. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tegak barang sedikitpun. (Ibrahim: 24-26) Dan tanah yang baik tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (al-A’râf: 58) Negeri yang baik (subur) akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang baik, kokoh, dan subur pula, dengan izin Allah Swt. Begitu juga, negeri yang buruk tentunya tidak akan menumbuhkan kecuali tumbuhan yang buruk, kering, dan lemah. Di hari kelahiran Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saww berkata kepadanya, “Engkau adalah pembagi surga dan neraka.” Rasulullah saww kemudian menambahkan, “Siapa saja yang menempatkan cinta(nya) kepada Amirul Mukminin, maka ia mukmin. Dan tidak ada orang yang menempatkan kebencian kepadanya, kecuali ia munafik.” Begitulah kelahiran salah seorang di antara Ahlul Bait yang disucikan oleh Allah Swt dengan firman-Nya: Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sesuci-sucinya. (al-Ahzâb: 33) Ya, kelahiran seseorang yang Allah Swt mengatakan tentangnya: Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka rukuk. (al-Mâidah: 55) Dalam sebuah hadis qudsi dikatakan, “Wilayahnya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib adalah benteng penjagaan-Ku, dan siapa saja yang masuk ke dalam benteng penjagaan-Ku, maka mereka akan selamat dari siksa-Ku.” Firman Allah Swt sebelumnya memiliki hubungan yang sangat erat dengan firman Allah Swt yang menceritakan tentang tumbuhan yang baik. Pada ayat tersebut, Allah Swt mengawalinya dengan kata-kata: Bumi yang baik…(dan seterusnya sampai akhir ayat). Apa sebenarnya yang dimaksud oleh Allah Swt dengan tumbuhan yang baik itu? Allah Swt menjelaskan bahwa tumbuhan yang baik adalah tumbuhan kokoh, yang akarnya menghunjam ke bumi dan cabangnya menjulang tinggi ke langit, dan dari pohon ini merebak buah-buahan yang banyak sekali manfaatnya. Tumbuhan yang baik (sajarah al-thayyibah) adalah sajarah al-tauhid (pohon tauhid). Yakni, adanya kekuatan tauhid pada diri manusia. Ya, tauhid ibarat pohon dan manusia adalah bumi (tanah, negeri) di mana pohon ini tumbuh. Apabila pohon tersebut tumbuh pada tempat atau tanah yang baik, maka ia akan berdiri dengan tegak dan kokoh pada diri manusia dan menghasilkan buah yang banyak sekali manfaatnya. Pohon tauhid akarnya berada di hati manusia dan cabangnya muncul pada amal dan perbuatannya. Ketika akarnya mulai menghunjam dan berpegang kuat pada tanah yang kokoh dan baik, maka batangnya akan bertumbuh merambat ke langit dan “bertemu” dengan Allah Swt setelah sebelumnya menyingkirkan segala hal yang menghalangi kehidupannya. Sama halnya, ketika manusia tidak berhubungan dengan Allah Swt; ketika berbagai permasalahan, problem, dan tuntutan kehidupan mendominasi manusia itu sendiri; ketika manusia mulai meracuni dirinya dengan berbagai pelanggaran dan kemaksiatan, maka yang pertama kali dirusak adalah akar dari pohon tauhid tersebut. Akar di mana batang dan buah berasal daripadanya. Lemah dan busuknya akar akan menumbangkan batang dan pohon yang menjulang tinggi dan “menemui” Allah Swt. Rusak dan keringnya akar akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan batang dan buah yang ada, sehingga pohon tersebut tidak hidup dengan baik dan tidak menghasilkan buah yang ranum. Setiap manusia bisa saja memiliki nilai tauhid, namun tidak setiap orang akan “bertauhid”. Ia, pada taraf tertentu, dapat meraih manfaat dari nilai tauhid yang dimilikinya, namun ia tidak akan selalu dapat memperoleh manfaat dari tauhid yang ada pada dirinya. Mungkin saja ia memiliki kesadaran untuk menghamba kepada Allah Swt, memiliki kesadaran untuk hanya tunduk dan takut kepada Allah Swt, tetapi apabila kesadaran ini tumbuh di lahan yang buruk atau penuh dengan racun kemaksiatan, maka perjalanan menuju Allah Swt tidak akan pernah terjadi. Sebab, ketika kesadaran bahwa ia harus tunduk kepada Allah Swt tertanam di hatinya, maka sebagai konsekuensinya ia harus menyingkirkan ketundukan kepada selain Allah. Akibatnya, mungkin secara fisik ia akan menderita. Sebab, ketundukan kepada Allah Swt melazimkan seseorang untuk memiliki ketegasan pada setiap persoalan, pada setiap nilai keyakinannya. Ketika manusia memenuhi jiwanya dengan kemaksiatan, maka akar kesadaran tauhid yang tumbuh dalam dirinya akan sangat kecil, sehingga tidak memiliki kekuatan untuk menumbuhkan dan menegakkan batang yang besar. Kalaupun batang tersebut muncul ke permukaan, ia tidak memiliki kekuatan untuk bertahan dan menyingkirkan segala sesuatu yang menghalanginya. Kita dapat bayangkan itu dalam kehidupan kita kini yang didera oleh konflik antara satu pihak dengan pihak lainnya, didera oleh kemiskinan dan kekurangan, sementara tuntutan konsumtif selalu ditumbuhkan di tengah masyarakat. Media massa selalu mendidik kita untuk mengejar dan mengejar kebutuhan sekunder atau bahkan kebutuhan tersier. Dari sisi ini saja, kita benar-benar mengalami kesulitan untuk mengatasinya, kita sulit untuk tidak bermaksiat. Islam tidak melarang kita untuk memenuhi kebutuhan sekunder atau bahkan kebutuhan tersier kita, namun Islam melarang kita bila kebutuhan itu dipenuhi dengan cara bermaksiat kepada Allah Swt. Ada istilah konyol yang sering diungkapkan orang, “Mencari (nafkah) yang haram saja sulit, apalagi mencari yang halal.” Kata-kata ini dan angan-angan panjang kita atas kehidupan dunia ini telah membuat ruang yang semakin lebar bagi kita untuk bermaksiat kepada Allah Swt. Ini seperti yang dikatakan oleh Amirul Mukminin, “Harapan saya dan dunia ini bersekutu, ya Allah; bekerja sama untuk menumbangkan saya dalam kemaksiatan (dalam tindakan yang melanggar keinginan-Mu).” Dalam wasiatnya, Rasulullah saww berkata, “Berhati-hatilah kalian dengan hijau-hijauan.” “Apa yang dimaksud dengan hijau-hijauan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Wanita yang elok (cantik) tetapi ia berasal dari sumber yang buruk.” Maksudnya, setiap manba’ (tempat bertumbuh) yang buruk—meskipun pohon yang ditanam baik mutunya—tidak akan dapat menghasilkan kebaikan apapun. Manakala hati dan jiwa ini kotor, maka tauhid, kalimat lâ ilâha illallâh, menjadi tidak berguna. Manakala benak manusia hanya tertuju pada dunia, maka memori yang ada di kepalanya hanyalah mobil, rumah, televisi, atau segala hal yang berhubungan dengan dunia, dan tidak tersisa sedikit pun laci untuk memikirkan masalah ketidakadilan, misalnya. Ia hanya akan berpikir bagaimana caranya untuk mengganti barang-barang yang dimilikinya dengan model terbaru; hanya itulah isi kepalanya. Karena itu, apa artinya tauhid yang tumbuh dalam pikiran manusia dan tidak lebih dari sebesar jari kelingking kita, sementara ia harus menanggung pertumbuhan batang yang digambarkan luar biasa oleh Allah Swt. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa betapa panjangnya perjalanan untuk sampai kepada Allah Swt dan alangkah sempitnya waktu yang kita sediakan. Allah menyatakan dalam firmannya: Yâ ayyuhal insân kadihun ilâ rabbik. Kadih adalah perjalanan sangat sulit dan panjang yang harus ditempuh manusia. Dalam pada itu, tajuk pohon yang harus sampai kepada Allah Swt adalah berupa amal perbuatan manusia; bagaimana mengatasi problem, merengkuh kebenaran, meraih ridha Allah Swt. Ini adalah batang dan tajuk yang besar. Kalau akarnya tidak besar, maka bagaimana mungkin ia dapat menjulang tinggi. Mungkin, dengan ketinggian satu meter meter saja, ia akan sudah tumbang. Sementara, Allah Swt mengatakan bahwa ia menjulang tinggi, kokoh, kuat, dan tidak goyah dalam hati kita. Karena itu, kita sering menemukan orang yang mengucapkan kalimat tauhid, mengatakan tiada tuhan selain Allah Swt, namun itu bertumbuh di comberan hatinya yang sakit atau di lahan batinnya yang kering dan tandus. Oleh karena itu, mempersiapkan, menyuburkan, dan mengolah lahan bagi pertumbuhan tanaman tauhid merupakan sebuah kemestian. Bagi orang yang memang lahannya sudah kering bak padang pasir, janganlah ia berkhayal untuk dapat menumbuhkan tanaman apapun, sebelum mengolah dan memupuknya agar menjadi subur. Artinya, meskipun tanah itu kering, itu bukan berarti tanaman tauhid tidak akan bisa tumbuh (karena masih bisa diolah lagi). Kalau kita tengok lintasan sejarah Islam, maka kita akan mengenal seorang budak hitam yang dilahirkan dari hasil perzinahan. Budak tersebut bernama Haitsam. Lahan dirinya memang kering untuk menumbuhkan pohon tauhid, namun lantaran lahan kritis itu diolah dengan sungguh-sungguh, tanaman itu pun dapat bertunas dan bertumbuh dengan baik. Apa yang akhirnya terjadi? Haitsam ditahan dan disalib oleh penguasa zalim bani Umayah (Marwan bin Hakam) di lapangan. Apa buah pohon tauhid itu? Selama penyaliban, dari mulutnya senantiasa terlontar kata-kata hikmah dan kisah tentang berbagai kejadian di alam ini. Setiap hari orang berkumpul dan mendengarkan apa yang disampaikan Haitsam. Setiap mengakhiri pidatonya, ia selalu berkata, “Saya mengetahui semuanya ini hanya lantaran lima tahun saya bersama Ali bin Abi Thalib.” Mempersiapkan lahan merupakan hal yang sangat penting dan menjadi tugas manusia, yaitu mengikuti panggilan fitrah untuk bertahan dan menahan diri atas hal-hal yang haram dan halal, mulai dari perut, penglihatan, pendengaran, lisan, tangan, pada batasan fiqh saja. Janganlah kita terlampau bingung dengan masalah, misalnya, “Saya ini shalat dalam keadaan suci atau belum?” Semestinya kita bingung dengan masalah, “Apakah telinga saya ini sudah suci dari mendengarkan ghibah, lisan ini sudah suci dari melontarkan fitnah?” Sebab, kalau nilai-nilai ini selalu kita usahakan agar tetap terjaga, maka demi sedikit berbagai macam penyakit dalam diri kita akan terkikis. Semua itu adalah upaya kita untuk menghindar dari murka Allah Swt. Ya, berhenti dari perbuatan haram adalah pupuk paling istimewa untuk menyuburkan tanah tauhid dalam diri manusia. Kita tidak perlu bercerita tentang bagaimana berbuat baik dulu, tetapi bagaimana menghidupkan diri kita dengan membuat tanah tersebut subur lantaran tauhid, sehingga pohon tauhid yang ada dalam diri kita ini tumbuh semakin kokoh dan kuat. Dalam lintas sejarah disebutkan bahwa ketika Abdullah bin Umar bin Khattab menghadap Hajjaj bin Yusuf (algojo Yazid paling garang), dari rumah pakaiannya telah basah dengan kencing lantaran ketakutan. Sesampainya di hadapan Hajjaj, ia menyatakan baiatnya (kepada Yazid) melalui sang algojo ini. Ia melakukan itu dengan tangan kanannya dan kaki ditekuk, sementara Hajjaj menyambutnya dengan salah satu kakinya. Padahal kita mengetahui bahwa Abdullah bin Umar adalah salah seorang tokoh sufi, namun, apa yang telah dilakukannya? Hal itu kontras dengan yang dilakukan oleh Said bin Jubair, ketika ia dihadapkan kepada orang yang sama, Hajjaj bin Yusuf. Ketika Said ditanya yang mana yang lebih dicintainya, Abu Bakar, Umar, Utsman, atau Ali bin Abi Thalib, ia menjawab, “Siapa yang paling dicintai Allah, maka saya cinta kepadanya.” Maksudnya, “Cinta saya mengikuti cintanya Allah Swt; yang paling utama dalam pandangan Allah Swt, itulah yang paling utama dalam pandangan kami.” Segala yang disampaikan Said bin Jubair di hadapan Hajjaj bin Yusuf, si terkutuk, tidak lain hanyalah tauhid yang dimilikinya. Apa yang terjadi ketika Hajjaj bin Yusuf memerintahkan agar Said bin Jubair dibunuh (dipenggal) dengan dihadapkan ke Kiblat? Ia malah membaca ayat: innî wahjahtu wajhiya lilladzî fatharas samâwâti wal ard (saya menghadapkan wajah saya pada yang menciptakan langit dan bumi). Hajjaj memerintahkan agar ia dipalingkan dari Kiblat. Said bin Jubair menjawabnya dengan membaca ayat: kemanapun engkau berpaling, di situlah wajah (berhadapan dengan) Allah Swt. Hajjaj kemudian menyuruh agar menelungkupkan wajahnya ke tanah. Di tanah ia berkata (membaca ayat): darinya Engkau ciptakan (aku) dan darinya pula aku Engkau bangkitkan dan (darinya pula aku) dikembalikan. Ya, semuanya ia kembalikan kepada Allah Swt. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Hajjaj memerintahkan untuk memotong lidah Said bin Jubair terlebih dahulu. Kemudian mereka menggergaji bagian punggungnya. Darah yang mengalir dari tubuh Said bin Jubair menjadi saksi atas ketauhidannya. Darah itu membentuk tulisan: lâ ilâha illallâh Muhammad al-Rasûlullâh. Begitulah, Allah Swt telah mengatakan bahwa wilayah (kepemimpinan) Ahlul Bait adalah benteng pertahanan Allah Swt. Benteng Allah Swt inilah yang menjadikan manusia selamat dari azab Allah Swt, di dunia maupun akhirat. Setiap tindakan manusia di dunia akan mendatangkan balasan, entah balasan baik atau buruk. Bahkan perbuatan baik kita bisa berakibat negatif pada diri kita, sebagaimana perbuatan buruk akan berakibat negatif pada diri kita. Ketika kita berbicara tentang kehidupan di dunia, maka tidak semua perbuatan baik mengakibatkan dampak positif bagi diri kita. Sebagai contoh adalah upaya yang dilakukan oleh Imam Khomeini dengan revolusinya. Dari satu sisi, itu buruk, sebab, berakibat pada embargo ekonomi dan senjata yang dilakukan musuh-musuh Islam, sehingga perekonomian bangsa Iran menjadi terpuruk. Apa yang didakwahkan oleh Rasulullah saww telah menjadikan beliau diasingkan (diblokade) selama tiga tahun, sehingga untuk makan saja beliau harus mengumpulkan pucuk dedaunan atau terpaksa mengganjal perut beliau dengan batu. Inilah penderitaan duniawi yang merupakan konsekuensi dari perjuangan yang beliau lakukan. Ya, kalau kita berbicara pada takaran dunia, perbuatan baik yang kita lakukan dapat berakibat negatif. Meskipun, dari sisi pandang yang lain, ia merupakan hal yang positif. Nabi Musa as mengatakan bahwa azab Allah Swt itu bisa terjadi di dunia ini. Setiap tindakan kita dapat mendatangkan atau melahirkan azab bagi kita. Sebagaimana, yang terjadi pada Firaun dan Nabi Musa as. Beliau as berkata, “Sesungguhnya saya memiliki dosa terhadap Firaun (innalî ‘alaihi dzanbun).” Maksudnya, Nabi Musa as memiliki dosa terhadap Firaun, sehingga Penguasa Mesir ini harus mengejar, menyakiti, atau membunuh beliau. Dengan demikian, dakwah Nabi Musa as, dari satu sisi pandang tertentu, telah mendatangkan azab pada diri Nabi Musa as. Meskipun demikian, apa pendapat Amirul Mukminin Ali bin Abi Tahlib? Beliau berkata, “Aku dapat bersabar atas azab-Mu, namun bagaimana mungkin aku dapat bersabar dari berpisah dengan-Mu (shabartu alâ adzâbik fa kaifa ashbirû alâ firâqik).” Maksudnya, “Ya Allah, atas siksa-siksa-Mu yang lain, aku akan bersabar. Meskipun wanita yang paling kukasihi, puteri Nabi-Mu (Fathimah), disakiti sedemikian rupa—sementara aku memiliki emosi, kekuatan, dan pedang; aku mampu memenggal kepala penguasa zalim yang menyakiti puteri Nabi-Mu itu—namun aku dapat bersabar akan hal itu. Sebaliknya, untuk berpisah dari ridha-Mu, menderita siksaan berpisah dengan-Mu, aku tidak akan mampu sabar menanggungnya. Ya, keberadaan manusia dalam benteng Allah Swt (wilayah) akan menjadikannya semakin kuat menghadapi segala musibah yang mendera. Sebab, Rasulullah saww bersabda, “Siapa saja yang menempatkan cintanya pada Ahlul Bait, maka saat itu ia mengenakan jubahnya musibah.” Begitulah, musibah adalah sesuatu yang akan selalu berjalan bersama orang yang berada dalam wilayah Ahlul Bait. Dengan demikian, mereka akan banyak memperoleh pelajaran dari kehidupan ini. Namun, musuh paling utama bagi mereka adalah keinginan-keinginan pribadi yang melambungkan angan-angan dalam diri mereka, sehingga menjadi abai terhadap kewajiban-kewajibannya.


conference-abu-talib
haj 2018
We are All Zakzaky